Sabtu, 15 September 2012

Yuhuii, SEMERU...aku datang lagi...


Sudah 2 minggu perjalananku ke semeru berlalu. Muka yang terbakar telah kembali, rasa capek telah hilang, perlengkapan kotor telah tercuci dan luka pernafasan dalam telah sembuh. Tetapi kenangan masih terasa baru. Sedikitpun aku tak ingin melupakan semua perjalananku kali ini. Oleh karenanya semua akan aku tulis disini sehingga aku tidak akan melupakanya lagi..
Pendakian ke semeru kali ini bersama Bunda Susi, Om teguh, pak Prasetya
Read More - Yuhuii, SEMERU...aku datang lagi...
Read More - Yuhuii, SEMERU...aku datang lagi...

Minggu, 29 Juli 2012

“SABER” satu kegiatan BANYAK makna…


Buat aku acara saur bareng di luar kali ini adalah yang pertama kali. Sejak kecil puasa di rumah saurnya juga selalu di rumah tidak pernah pergi keluar. Trus kuliah juga selalu saur di kosan bareng ma teman sekosan. Bahkan ada kegiatan anak HMI yang adain saur buat anak jalanan, aku lebih pilih absen.  Banyak alasan yang ada dalam pikiranku dulu “mulai dingin, ngantuk, bahaya, malas d el el”. Tetapi kali ini beda , dah merasa berani keluar malam-malam, ada revo yang selalu setia menemani kemanapun.

Acara saber ini diadakan oleh teman-teman babbling. Perkenalanku pertama kali dengan anggota group bubling dari mbak Bella, dia adalah kakak tingkatku. Saat itu mbak Bella sedang merayakan ulang tahunya di Wapo Resto bersama mereka. Setelah acara ulang tahun mbak Bella aku tidak pernah lagi mau bergabung dengan acara mereka. Karena kebanyakan kegiatan mereka ke Club malam alias dugem. Dari awal mang aku gak akan pergi ke tempat seperti itu (maklum neh kawan kuper tapi tu amanat dari ortu…*sok alim..hehehehe). Rata-rata mereka adalah para akuntan dan ada beberapa manajer dari perusahaan swasta  terkenal di malang. Untuk kali ini acaranya jelas yaitu  “bagi-bagi saur buat orang pinggiran” dan klo acara seperti ini aku jelas tertarik sekali. Aku pikir grup ini cuma ingin senang-senang saja teryata aku salah..maafkan saya ya..

Acara dimulai pukul  12.30 di rumah Pak Yossi yang terletak di daerah sukun kota malang.  Tak disangka petualanganku sudah dimulai dari plaza Dieng.  Tiba-tiba saja, ban sepeda motorku yang belakang bocor. Mana, aku mengendarai saat itu kenceng banget. Hasilnya, terjadi  sedikit drama berguling di aspal tengah malam. Untungnya karena malam hari tidak ada yang lihat jadi tidak bikin malu lah, tetapi buntung juga karena tidak ada tambal ban yang buka. Aduh revo, seharusnya klo ada paku tu mengindar jadi kan gak ada acara dorong-mendorong sambil menahan sakit.. :( . Akhinya sampai di rumah Pak Yossi dengan terlambat setengah  jam dan aku kira aku yang paling terlambat ternyata yang baru hadir mbak meta,  mas pram dan Pak yossi (yaiyalah pak yossi kan tuan rumahnya).Tidak lama kemudian datalah kak Risky, Pak Antok, Mas Setya dan Mbak Bella total dari kami adalah 8 orang. Untuk nasi kotak yang akan dibagikan telah disiapkan oleh bu antok yang sehari-harinya berbisnis dalam bidang catering. Dijamin enak !!

Pukul 01.30 kami segera berangkat menuju TKP di daerah malang kota lama. Dengan berat hati Revo aku tinggalkan di rumah pak yossi dan aku berboncengan dengan mbak meta. Sekitar setengah jam kami telah memasuki area pecinan di kota malang, suasana yang ada teryata  diluar dugaanku. Awalnya aku pikir akan sepi tetapi ketika kami melewati pasar suasana telah rame. Banyak orang yang telah menyiapkan daganganya. Mulai dari anak-anak dibawah 10 tahun sampai orang tua lanjut usia. Setelah melewati pasar kami melewati gang sempit dengan pemandangan kiri kanan rumah-rumah yang menurutku sedikit kumuh.  

Setelah keluar masuk gang akhirnya kami sampai di sebuah tanah kosong yang luas. Aku tidak tahu pasti di mana daerah ini.  Tanah kosong ini ternyata adalah tempat pembuangan akhir (TPA). Bau sampah tidak sedap sunguh menyengat di hidung. Aku tidak bisa membayangkan jika setiap hari mencium aroma seperti ini. Ingin rasanya aku menutup hidungku tetapi aku juga tidak ingin menyingung perasaan mereka.

Banyak Anak usia 12 tahunan di pagi hari telah melakukan pekerjaanya. Padahal seharusnya mereka tidur yang cukup. Selain anak-anak banyak juga orang tua usia lanjut usia yang sibuk mengangkat sampah-sampah untuk dipilah-pilah. Udara dingin yang menusuk tulang tidak mereka hiraukan sama sekali. Mereka memilah plastik bekas yang dapat didaur ulang. Rasa sedih dan bangga akan mereka ada dalam diriku. Aku sangat senang dengan anak kecil yang memiliki semangat tinggi seperti mereka. dengan cepat kami langsung membaur dengan mereka bau tak sedap  dan rasa jijik yang semula ada dalam benaku seketika lenyap. Saat asyik bercengkrama, tiba-tiba saja perhatianku teralihkan oleh seorang anak yang sedang kusyuk sholat malam diantara tumpukan kardus bekas. Aku merasa malu sekali, jam segini biasanya aku masih tertidur lelap dan merasa malas sekali untuk membuka mata. Sementara mereka semua berusaha keras untuk tetap menjadi umat muslim yang baik . Yaa Allah maafkan hambamu ini..

Sebelum waktu imsyak datang kami semua segera saur bersama. Sungguh aneh ! kami semua makan di antara sampah  dengan bau menyengat tetapi suasana terasa sangat menyenangkan. Kami smua saling berbincang-bincang, bahkan saling bercanda gurau.  Semua menikmati makanan saur dengan lahapnya. Acara saur bersama kami tutup dengan sholat subuh berjamaah. Ketika aku pulang, tio seorang anak yang berumur 7 tahun merengek kepada ibunya akan ikut bersamaku. Dengan berat hati aku pergi meninggalkanya dan berjanji suatu saat akan kembali lagi.

Tidak lupa aku mampir dahulu di rumah pak yossi untuk mengambil revo. Aku benar-benar mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada beliau, karena telah mengajaku kedalam acara yang penuh makna. Sementara pak Yossi hanya berkata “untuk berteman dengan rakyat kecil itu lebih susah karena tidak cukup dengan uang melainkan dengan hati”. Sungguh kata yang bermakna dalam bukan…
Read More - “SABER” satu kegiatan BANYAK makna…
Read More - “SABER” satu kegiatan BANYAK makna…

Jumat, 25 Mei 2012

Review SUPERNOVA #1 “Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh”



Sesuai dengan janji ku, dalam seminggu ini akan aku review supernova 1-3 aku membacanya ketika SMA, dah 6 tahun yang lalu deh. Aku membaca novel supernova justru secara terbalik tetapi itu justru mengasikan. Dimulai dengan “Petir#1”, “Akar#2” dan “Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh#3”.  Supernova adalah virus. Jadi siap-siap ya terjangkit virusnya dan dijamin berkomentar kagum akan karya-karya dee…

Dee sangat ahli dalam merangkai ilmu pengetahuan mulai fisika,biologi, kimia yang dicampur ke dalam sastra. Sehingga akupun harus membacanya berkali-kali. dan Supernova satu ini juga penuh akan pengetahuan. Dimulai dari 2 tokoh berikut :

Dimas & Reuben
Dua orang pemuda cerdas yang sedang kuliah di luar negeri bertemu. Dimas yang kuliah di George Washington University bertemu dengan Reuben, si “teoritis” yang belajar di Johns Hopkins Medical School. Mereka memiliki kecerdasan yang luar biasa. Mereka berdua gay alias homo dan kebetulan sekali jatuh cinta karena kesamaan visi. Mereka membuat janji bersama untuk sepuluh tahun lagi.

Sepuluh tahun kemudian di Jakarta mereka berusaha mewujudkan janji diantaranya. Mereka berdua akan membuat sebuah mahakarya penggabungan antara “fiksi” dengan pemahaman jangka panjang tentang “fisika-filsafat”. Mereka akhirnya memutuskan akan membuat sebuah cerita dengan order dan chaos sebagai awal cerita. Dimana, sebuah dongeng masa kecil, Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh mereka transformasikan ke dalam diri para tokoh modern, manusia millenium.

Tuhan berbicara lewat banyak hal, banyak mulut, dan banyak peristiwa (hlm. 53)

Dalam kerangka berpikir Reuben, segala sesuatu yang ditangkap manusia sebagai objek merupakan hasil dari keinginan yang diciptakan manusia itu sendiri, dengan otak sebagai mediasi. Ini juga tak lepas dari penjelasannya tentang “konsep waktu”. Bahwa waktu masa kini, masa lalu dan masa depan sebenarnya hanyalah akibat dari pengolahan bagian otak yang bernama cortex. Bagian itulah yang menyusun kekacauan mencari sebuah rutinitas empiris yang akhirnya terkategori. Baginya yang ada hanyalah masa kini yang terus bergerak, masa lalu yang terus bergerak, dan masa depan yang juga selalu bergerak. Tak dapat di genggam secara kategoris.

“...Dan, apa yang ia lihat bergantung dari respon mana yang ia pergunakan.
Otak adalah alat yang disediakan bagi kita untuk bermain dengan hidup.
Permainannya sendiri? Terserah anda.” (hlm. 127)

Diawali dari sebuah dongeng “Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh”.
Dimana  terdapat seorang pangeran yang sangat mencintai seorang putri, namun dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh. Hingga muncul sang bintang yang merasa iba dan mengajak pangeran untuk ikut menuju tempat sang putri. Namun begitu sang bintang melihat sang putri, ia jatuh cinta dan membiarkan sang pangeran hancur menjadi debu dalam perjalanannya menempuh jarak dengan kecepatan yang tinggi, ditinggalkan sang bintang. Dari cerita inilah reuben merefleksikan menjadi tokoh-tokoh dibawah ini

Ksatria (Ferre), Putri (Rana) dan Bintang Jatuh (Diva)
Dia adalah seorang eksekutif muda, managing direcotr sebuah perusahan multinasional) yang sibuk dengan semua urusan pekerjaannya. Hingga sang putri datang dalam wujud seorang reporter sebuah majalah wanita, bernama Rana. Lewat sebuah takdir pertemuan wawancara mereka mulai menjalin hubungan. Mereka saling jatuh cinta, namun di saat yang tak tepat. Rana, sang putri telah diikat oleh seorang pangeran yang bahkan tak ia cintai, yaitu Aswin. Aswin adalah suami dari Rana yang sangat mencintai rana. Sedangkan refleksi bintang jatuh dalam mahakarya Reuben dan Dimas? Ia berwujud seorang wanita, cantik, cerdas, bermata hitam, modern, dan kaya. Atas ide dari Dimas, dia membuat bintang jatuh menjadi sesuatu yang special yaitu seorang pelacur. Mereka memberi nama Diva. Diva seorang wanita “siap pakai” dengan tarif dolar. Wlaupun begitu tak sembarangan orang bisa menyentuh tubuhnya karena harus rela merogoh kocek U$ 1500.

Aku sendiri sangat menyukai sifat dan karakteristik diva, walaupun seorang pelacur Diva memiliki kepandaian yang tinggi. Diva dibentuk sebagai pelacur dengan kelas tinggi, bahkan diva mampu membuat seorang guru besar kalah dalam perbincangan. Disinilah dee memasukan masalah social dan budaya, Dee sangup menyidir oknum orang kaya yang bersikap Borjuis.

“Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran, bahkan jiwanya.
Bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran yg paling hina?”

Klimaks dari novel ini ketika Aswin telah mengetahui perselingkuhan Rana. Tentunya kalian pun akan penasaran “siapakah yang dipilih oleh rana ?”, “Apakah perasaan cinta itu?”, “ Apakah seharusnya cinta itu mengikat atau  membebaskan ?”,” Bagaimana Diva sebagai Bintang jatuh dapat ikut campur dalam kehidupan Ferre ?”. AYO, temukan semua jawabanya di novel ini…

Salah satu hal yang membuat novel ini menarik yaitu “Siapa menulis siapa?”. Dalam cerita Ruben dan Dimas menciptakan sebuah karya tetapi sebenarnya mereka juga hanyalah tokoh. Dee lah yang menciptakan mereka.   Inilah yang membuat aku benar-benar kagum akan karya dee . 10 jempol untuk Dee. Dijamin kalian pun akan dibuat penasaran dan membacanya tanpa henti.
Read More - Review SUPERNOVA #1 “Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh”
Read More - Review SUPERNOVA #1 “Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh”

Jumat, 18 Mei 2012

Review SUPERNOVA #2 “Akar”


Sesuai dengan janji ku di Revie Supernova #4 Partikel sebelumnya akan aku review supernova 1-3 aku membacanya ketika SMA, jadi sudah 6 tahun yang lalu deh. Aku membaca novel supernova justru secara terbalik tetapi itu justru mengasikan. Dimulai dengan “Petir#1”, “Akar#2” dan “Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh#3”.  Supernova adalah virus. Jadi siap-siap ya terjangkit virusnya dan dijamin berkomentar kagum akan karya-karya dee…

Saat itu selama 2 hari berturut-turut "akar" menemani hariku. Mau tidurpun aku selalu teringat akar karena terasa akar akan berlari meninggalkanku, padahal akar tidak akan tumbuh  jika aku tak membacanya.  Akar diterbitkan pertama  pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Mereka menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan selanjutnya.

Sebagai pembuka novel  Akar menceritakan sedikit lanjutan “Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh”. Dimana  Gio mendapat kabar bahwa Diva menghilang dalam sebuah ekspedisi sungai di pedalaman Amazon. Dan Gio pun membuat keputusan untuk mencari Diva.

Akar menceritakan sebuah petualangan seorang yang bernama Bodhi.  Saat membuat review  ini aku baru sadar sepertinya akar juga berperan dalam menumbuhkan  virus-virus petualangan di otaku sampai detik ini pun semakin terus berkembang. Bodhi pada awalnya tinggal di wihara dan dibesarkan oleh Guru Liong. Akhirnya nasib menggiringnya untuk berpetualang meningalkan wihara tersebut.

“Jangan takut. Jangan menyerah.
 Hidup ini sebenarnya indah.”

Bodhi merupakan orang bebas. Dia mengikuti aliran air kehidupannya yang berusaha untuk mencari tahu tujuan hidupnya dan mengasah kemampuanya. Bener-bener bikin iri, berbeda dari petir ketika mmbaca Akar diawal cerita akusangat antusias. Dalam akar memang hanya sedikit pengetahuan tetapi justru menurutku saat inilah Akar langsung praktek tanpa teori..

“Life is all about how to control our minds,
and how to make use of our limited knowledge.”

Awal dari penjelajahan Bodhi di awali di Bangkok kemudian ke Laos, kembali lagi ke Bangkok dan akhirnya ke Kamboja dengan petualangan yang makin seru karena Kamboja adalah area konflik para pasukan pemberontak. Dee benar-benar sangat pandai dalam mengambarkan petualangannya keliling Bodi di Asia Tenggara. Dalam petualanganya bodhi melakukan banyak pekerjaan menarik dari tukang tato hingga pemetik daun ganja di Golden Triangle pun dilakukan untuk terus hidup.
Pembaca akan dibawa berpetualangan seperi di dalam film Adventure yang menceritakan tempat-tempat menarik. Dalam sebuah petualangan tentunya Pertemuannya dengan berbagai orang yang baru menjadi kepingan puzzle  bagi kehidupan Bodhi.   Bodhi bertemu dengan orang-orang hebat yang mengubah nasibnya. Ia bertemu dengan para backpacker dari berbagai negara, berjalan dari satu nasib ke nasib yang lain. Hingga bergaul dengan masyarakat anarkis murni, yang memiliki ideologi do it yourself, Punk. 

“Art partly completes what nature cannot bring to a finish.
Art carries out Nature’s unrealized ends.”

Pelajaran hidup akan selalu didapat dimanapun dia berada. Kadangkala seseorang yang ditemui di suatu tempat akan bertemu lagi di tempat lain dengan suasana yang benar-benar ajaib dan berbeda seolah melengkapi nasib diantara keduanya.

“Kita memang tak pernah tahu apa yang dirindukan

 sampai sesuatu itu tiba di depan mata.”
Read More - Review SUPERNOVA #2 “Akar”
Read More - Review SUPERNOVA #2 “Akar”

Selasa, 08 Mei 2012

Review SUPERNOVA #2 “PETIR”




Judul buku         : Supernova : Petir
Penulis               : Dewi “DEE” Lestari
Penerbit             : PT. Andal Krida Nusantara (AKOER)
Cetakan             : Pertama  Oktober 2004
Tebal                 : ix+201 halaman






Sesuai dengan janji ku, dalam seminggu ini akan aku review supernova 1-3 aku membacanya ketika SMA, dah 6 tahun yang lalu deh. Aku membaca novel supernova justru secara terbalik tetapi itu justru mengasikan. Dimulai dengan “Petir”, “Akar” dan “Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh”.  Supernova adalah virus. Jadi siap-siap ya terjangkit virusnya dan dijamin berkomentar kagum akan karya-karya dee…

Diawali dengan lanjutan supernova #1 dimana tokoh Dimas-Reuben yang keduanya akan berurusan dengan kiriman e-mail Gio yang mengatakan bahwa Gio sedang melakukan pencarian terhadap Diva yang menghilang. Karena membaca tidak berurutan awalnya saya pikir Gio_Diva_Reuben_Dimas hidup di dunia nyata. Tetapi setelah membaca Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh saya sendiri sedikit bingung. Bagaimanakah sebenarnya hubungan keduanya ?

Tokok utama dalam novel ini adalah Elektra (Petir). Dalam novel ini Dee akan membuat kita tertawa dan bertanya-tanya bagaimna kelanjutanya novel ini. Bahkan Dee juga menggabungkan ilmu pengatahuan kedalam novel. Pembaca akan dibawa untuk mempelajari ilmu listrik dan jaringan. Tidak hanya itu para pembaca juga akan dibuat tegang oleh berbagai kejadian misterius. Jika dibandingkan semua seri Supernova, menurutku Petir yang paling komplit (kayak paket Jamu gitu..) mulai humor, pengetahuan sampai misteri.

Masa kecil Elektra bersama kakaknya watti kurang bahagia, karena mereka tidak pernah memiliki mainan baru. Setiap mainan mereka rusak, ayah mereka selalu dapat memperbaikinya. Saat Elektra kecil ia pernah tersetrum listrik dari kabel yang tidak sengaja ia sentuh. Sementara Dedi panggilan akrab ayahnya sudah menjalin ikatan suci dengan listrik. Pernah Elektra menyentuhkan test-pen ke tubuh Dedi dan ajaibnya dapat menyala. Elektra kecil sangat senang menonton kilatan petir dan ia sering menari-nari dibawah hujan saat petir manggelegar. Karena kejadain itu Watti menyuruh Elektra ke Gereja untuk disucikan dan dibebaskan dari pengaruh roh jahat. Dan alhasil usahanya tidak berhasil dan Elektra malah semakin penasaran dengan keanehan dalam dirinya
.
“…kursi itu berguncang hebat pada akhirnya.
Ternyata hidup tidak membiarkan satu orang pun lolos untuk Cuma jadi penonton.
Semua harus mencicipi ombak.” (hal 33)

Sejak Dedi elektra meninggal karena stroke dan kakaknya Watti memutuskan tinggal bersama suaminya di Freeport, Tembagapura. Elektra harus tinggal sendirian di rumah yang besar dan kuno bernama Eleanor. Elektra memiliki kebiasaan malas-malasanan kerjaannya hanya tidur siang jelas tidak siap menghadapi hidupnya yang menuntut untuk mandiri. Sarjananya sudah lama didapat, tapi dia tidak memiliki ketrampilan bekerja.

Beberapa peluang pekerjaan dicobanya. Dari bisnis MLM hingga memenuhi panggilan kerja untuk menjadi asisten dosen di STIGAN (Sekolah Tinggi Ilmu Gain Nasional). Elektra sangat bingung kemudian mendatangi dukun sakti untuk meminta perlindungan  tetapi sang dukun sakti tersebut malah akan melakukan hal seronok padanya, kemudian  Elektra mencegahnya dan memegang pundak sang dukun dan tiba-tiba sang dukun pingsan seperti tersetrum listrik. Dan setelah diselidiki lebih lanjut STIGAN hanyalah mainan orang iseng yang ingin menakuti orang lain. Sumpah saat baca bada bagian ini aku ketawa ngakak…

Namun justru karena surat itulah Elektra akan menemukan gerbang metamorfosis dirinya. Untuk melengkapi syarat-syarat penggilan kerja itu, Elektra membeli perlengkapan klenik di sebuah warung yang memang dikhususkan menjual perlengkapan perdukunan macam itu. Di situlah akhirnya Elektra mengenal sosok Ibu Sati yang merupakan pemilik dari warung tersebut. Ibu Sati dijadikannya sebagai guru spiritual yang nantinya akan menginspirasi bisnis usaha Elektra sekaligus seseorang yang mampu menggali bakat ajaib Elektra yang berhubungan dengan listrik yang ada di tubuhnya.

“Percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Membiarkan
 hidup dengan caranya sendiri menggiring kita menuju sebuah jawaban.” (hal 229)

Ibu Sati mengajarkan berbagai hal dan ia juga yang menyarankan Elektra untuk mempunyai komputer sendiri bahkan Ibu sati juga menyarankan Elektra untuk membuka sebuah warnet.Saat Elektra dan  menjalankan niat tersebut akhirnya ia bertemu dengan seorang maniak internet bernama  Toni yang biasa dipanggil Mpret. Mret telah berhasil membuat 12 Virus dan menyadap Internet Banking beberapa Bank. Kesepakatan bisnis terlaksana mereka mulai menyulap Eleanor menjadi Warnet, Rental PS, Distro, Home theater dan tentu saja tak lupa warung nasi goreng yang penjualnya bernama Mas Yono. Sebulan bangunan tersebut selesai selanjutnya mereka mencari nama yang cocok, setelah berdiskusi ahirnya Eleanor menjadi ELEKTRA POP.

“…bahwa akan tiba saatnya orang berhenti menilaimu dari wujud fisik,
melainkan dari apa yang kamu lakukan.” (hal 248)

Tak disangka, pada suatu ketika Elektra terserang penyakit aneh yang apabila ia ingin pergi ke dokter penyakit itu sembuh dan sebaliknya kitika ia mulai duduk di belakang komputernya penyakit itu kambuh lagi. Akhirnya 4 orang temannya, Kewoy, Mpret, Mi’un dan Mas Yono berinisiatif untuk membawanya ke rumah sakit secara diam-diam dan tak disangka-sangka saat mereka sakan membawanya “DAR” mereka terlempar karena listrik dari tubuh Elektra.

“Tak ada cara untuk menggambarkannya dengan tepat. Tapi coba bayangkan ada sepuluh ribu ikan piranha yang menyergapmu langsung. Kau tak mungkin berpikir. tak mungkin mengucapkan kalimat perpisahan apalagi membacakan wasiat. Lupakan untuk berpisah dengan manis dan mesra seperti film-film. Listrik membununuhmu dengan sensasi. Begitu dahsaytnya, engkau hanya mampu terkulai lemas. Engkau mati tergoda.”


Akhirnya Ibu Sati datang dan memberi wejangan pada Elektra dan kontan saja suasana Eleanor menjadi ricuh. Lalu Ibu sati membawa Elektra ke ruangan Home Theater yang kosong dan mereka berbicara empat mata. Di situ Ibu Sati memberitahu kalau Elektra memiliki kemampuan yang luar biasa. Maka mulai saat itu Elektra dilatih agar bisa mengendalikan kekuatannya. Setelah ia dapat mengendalikan kekuatannya maka ia mendirikan “Klinik Elektrik” di ruang rental PS-nya. Dan tak disangka orang yang datang untuk berobat banyak. Usaha Elektra menjadi berkembang pesat karena bantuan Mpret. Belakangan Mpret akan menjadi penghubung antara kisah Elektra dengan Bodhi lewat sepupu Mret yang bernama Bong (hubungan Bong dan Bodhi telah diceritakan di supernova#2 Akar).

Read More - Review SUPERNOVA #2 “PETIR”
Read More - Review SUPERNOVA #2 “PETIR”

Kamis, 26 April 2012

Review " Partikel"




Judul         : Supernova~Partikel #4
Penulis      : Dewi Lestari (Dee)
Penerbit    : Bentang Pustaka
Tgl. Terbit : April 2012
Tebal        : 508 halaman





Bagi yang belum tahu atau baru kenal dengan namanya Dee akan aku kenalkan sedikit ya..(main kenalin az padahal juga belum pernah ketemu langsung…hehehe). Dee adalah penulis yang mulai terkenal melalui karya supernovanya. Partikel adalah karya supernova Dee yang ke-empat, setelah supernova~petir. Petir aku baca pertama ketika SMA. Saat  itu masih pinjam buku dari teman belum sangup membeli sendiri. Sedangkan supernova pertama~ berjudul “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”. Supernova dua dengan judul “Akar”. Saat ini keempat seri Novel Supernova dari telah dicetak ulang. Logo cover depan dalam novel Partikel adalah Simbol “Bumi”. Seri Supernova berikutnya dikabarkan akan berjudul Gelombang dan Intelegensi Embun Pagi. Novel Dee Supernova sunggulah berbeda dengan kebanyakan novel lainya. Untuk kali ini review Partikel dulu ya, supernova lainya menyusul.

Partikel yang ditunggu selama delapan tahun akhirnya terbit juga. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Seorang bayi yang baru saja keluar dari rahim ibu pastilah sekarang telah duduk di bangku SD.  Tetapi di akhir buku Partikel Dee juga menjelaskan mengapa ia sangat lama dalam menulis Partikel. Dan setelah membaca Partikel saya pun menyadarinya betapa sulitnya proses penulisan.

Novel yang di tulis Dee memang tidak sekedar cerita tetapi mengabungkan antara ilmu pengetahuan, pendidikan, masalah sosial lingkungan, sampai hal yang tahayul ataupun mistis. Sehingga sangat dibutuhkan data-data yang real yang menjadikan novel Partikel tampak nyata dan sebenarnya. Dalam novel partikel, Dee masih menceritakan tentang hal-hal gaib. Mungkin inilah yang membuat novel karya Dee menjadi  kontroversial. Banyak pengalaman gaib dan spiritual yang dialami oleh tokoh utama yaitu Zarah. Bahkan tokoh utama diceritakan lebih percaya kepada Alam bukan kepada Tuhan. Tidak hanya itu, Partikel juga menceritakan tentang keberadaan makluk luar angkasa yaitu Alien.

Sedangkan kelebihan Partikel menurut saya yaitu Dee mampu menjabarkan tentang sains terutama bidang biologi yang mampu menceritakan berbagai jenis tumbuhan yang ada di Bumi. Bahkan Dee mengangkat   isu lingkungan yang melanda Indonesia, terutama pemburuaan orang hutan dan kerusakan ekosistem hutan di Kalimantan. Oleh karena itu jika mungkin Partikel terbit 8 tahun lalu, tentulah pembantaian orang hutan di hutan Kalimantan belumlah ada.  Hikmah dari novel Partikel yang dapat diambil yaitu kita sebagai manusia tentulah harus mencintai Bumi sebagai tempat tinggal kita. Berikut beberapa pesan moral tentang lingkungan yang sangat mengena di hati :

“Kita, manusia, adalah virus terjahat yang pernah ada di muka bumi. Suatu saat nanti, orang-orang akan berusaha mayakinkanmu bahwa manusia adalah bukti kesuksesan evolusi. Ingat baik-baik, Zarah. Mereka salah besar. Kita adalah kutukan bagi bumi ini. Bukan karena manusia pada dasarnya jahat, melainkan karena hampir semua manusia hidup dalam mimpi. Mereka pikir mereka terjaga, padahal tidak. Manusia adalah spesies yang paling berbahaya karena ketidaksadaran mereka.” (hal.71)

“…alamlah yang punya kekuatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Dengan atau tanpa kita.” (hal. 190)

“Manusia berbagi 63% kesamaan gen dengan potozoa, 66% kesamaan gen dengan jagung, 75% dengan cacing. Dengan sesama kera-kera besar, perbedaan kita tidak lebih dari tiga persen. Kita berbagi 97% gen yang sama dengan orang utan. Namun, sisa tiga persen itu telah menjadikan pemusnah spesiesnya. Manusia menjadi predator nomor satu di planet ini karena segelintir saja gen berbeda.” (hal. 227)

Apa yang ditulis dee diatas memang sangat benar sekali. SElama ini manusia sangat kurang dalam menyayangi alam. Selain itu Dee juga sangat pandai membuat pembacanya penasaran terutama saya.  Dimana Partikel belum menyelesaikan ceritanya mulai bagaimana kehidupan zahra selanjutnya, apakah ayaknya "firaz" dapat ditemukan. Sehingga terkesan masih banyak misteri dan rahasia yang akan terungkap. Hal inilah yang menjadikan supernova selalu di tunggu-tunggu pembaca.

“Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.” (kata-kata ini terdapat dalam hal. 69)

Dan hanya waktu juga yang akan menjelaskan kelanjutan cerita supernova. Ya tinggal tunggu waktu.

SINOPSIS :

Di pinggir Kota Bogor, dekat sebuah kampung bernama Batu Luhur, seorang anak bernama Zarah, dan adiknya, Hara, dibesarkan secara tidak konvensional oleh ayahnya, dosen sekaligus ahli mikologi bernama Firas. Istilah kerenya sekarang yaitu “Home Schooling” Cara Firas mendidik anak-anaknya mengundang pertentangan dari keluarganya sendiri.

Dari metode yang diajarkan ayahnya, Zarah menjadi anak yang cerdas. Namun satu hal yag tidak diajarkanayahnya adalah pendidikan agama. Ayahnya sendiri terobsesi dengan jamur. Dari situlah ayahnya memperoleh rahasia alam yang tidak mudah dipahami bahkan oleh anggota keluarganya sendiri yang menganggapnya sudah sinting. Ayahnya menjadi semakin aneh ketika dia kedapatan sering mengunjungi tempat angker yang ditakuti warga kampung. Disusul kemudian tragedi-tragedi yang menimpa keluarganya yang semakin membuat ayahnya dianggap sebagai biang keladi segala kutukan itu. Hingga puncaknya, ayahnya pun menghilang.


Pencarian Zarah terhadap ayahnya membuat Zarah dibawa nasib berkeliling dunia. Berawal dari jurnal peninggalan ayahnya, Zarah tahu ada suatu misteri besar yang diketahui ayahnya demikian juga harapannya yang bertumbuh bahwa ayahnya bisa saja masih hidup. Sebuah kiriman kamera dari orang tak dikenal adalah tiketnya untuk mengembara. Awalnya hanya karena fotonya mendapatkan juara yang hadiahnya berupa wisata gratis ke konservasi orangutan Tanjung Puting. Bakat fotografi dan nalurinya justru membuatnya betah tinggal di sana dan mengabaikan jadwal kepulangannya ketika agenda wisata gratis itu sudah habis. Hingga talentanya itu kembali mengantarkannya lagi untuk menjelajah lebih jauh, mulai dari London, Kenya dan Bolivia. Zarah merasa bahwa petualangan itu akan membawanya kepada jawaban mengenai ayahnya. Hingga akhirnya tibalah di Glastonbury dan dia bertemu dengan seseorang yang menjadi kunci yang bisa membantu menemukan ayahnya.

Di Keping terakhir, akan diceritakan pertemuan Elektra (tokoh supernova Petir) dan Bodhi (tokoh supernova Akar) yang menjadikan cerita Supernova semakin menarik. Sayangnya tidak banyak hal yang terjadi diantara keduanya berupa sebuah pertemuan yang masih menjadi misteri akan kelanjutanya (gaya dee banget).

Read More - Review " Partikel"
Read More - Review " Partikel"

Minggu, 15 April 2012

Gunung Pangrango (3019 mdpl) & Gunung Gede (2958 mdpl)



Gunung Panggarango adalah  Gunung yang masuk dalam kawasan  Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP). TNGGP terletak di kabupaten Cianjur, Sukabumi dan Bogor . Sebenarnya telah lama aku mengubur mimpiku ke Pangrango seiring dengan berhentinya teman-temanku dari kegiatan daki gunung (edo, chen, antok, echa, monik). Tetapi karena ajakan Eva yang juga kagum akan sosok Gie. Soe hok Gie adalah seorang mahasiswa, penulis, cendikiawan (pastinya juga seorang yang tidak merokok, bener-bener pecinta alam sejati dech). Soe Hok Gie meninggal di mahameru karena terkena asap beracun di tahun 1969.  Dari Mahamerulah di tahun 2006 aku mendengar namanya untuk pertama kali, (he he he saat itu echa mengejek aku habis2an karena tidak tahu siapa gie “cha sekarang aku dah punya buku Soe Hok Gie yang telah kubaca”). Soe hok Gie sangat menyukai mendaki Gunung Pangrango terutama lembah Mandalawanginya yang membuat penasaran…

PERSIAPAN

Perjalanan saya kali ini bersama Eva dan Ari, dimana kami memulai perjalanan dengan group “Women Series”. Seperti impianku ingin menikmati sebuah petualangan di alam tanpa menaklukan alam tetapi menaklukan diri sendiri. Tidak banyak informasi yang aku dapat dari teman-teman karena menurut beberapa teman gunung Pangrano  tidak begitu menantang (tp menurutku mereka salah besar !!!!). Awalnya saya, eva dan ari ingin berangkat di bulan Maret tetapi di bulan itu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango masih di tutup dan sejak 2 bulan kami telah  mengurus soal perijinan untuk ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) karena syarat yang ditentukan cukup banyak  bahkan waktu pendakian ditentukan. Sungguh mengesalkan, rasanya hotel saja kalah dengan neh gunung yang harus boking tempat dan bayar DP dulu !!!.

BERANGKAT

Di hari rabu Pukul 19.30 aku dan eva berangkat  menuju ke Surabaya dengan kereta Penataran. Tas carrie kami berdua telah terisi penuh oleh perlengkapan dan bahan makanan kami bertiga. Agar sampai Bandung tidak kesulitan kami berdua memang sengaja menyiapakan semua perbekalan dari kota Malang, dengan begini pula punggung kami akan terbiasa oleh berat carrie.
Pukul  22.15 kami berdua baru sampai di stasiun gubeng dan masih ada waktu 7 jam untuk beristirahat. Kami berdua malam itu menginap di kos Innes (salah seorang sahabatku dipak dulu) di jalan gubeng airlangga. Untuk menuju kos ines dari stasiun gubeng kami putuskan untuk berjalan kaki. Petualangan kami mulai dengan berjalan di gang-gang sempit dengan perkampungan yang rawan khas kota Surabaya. Seluruh rumah telah tertutup rapat tetapi di depan masjid-masjid atau pos ronda terdapat  beberapa kelompok orang yang sedang bermain kartu dan beberapa botol minuman keras, (sumpah dech , aku pilih jalan di kuburan ketimbang jalan di situ sendirian lagi…hiks..karena seperti itulah kadang manusia lebih menakutkan dari pada setan, mungkin Eva yang blm kapok berjalan di sana lagi…). Setelah berjalanan 2 jam barulah kami menemukan jalan raya tetapi  jalan raya yang kami temukan  ternyata salah. Kami tersesat sampai  daerah kertajaya, alhasil waktu istirahat tinggal 4 jam. Rencana irit tidak naik taksinya gagal dech…

 KERETA LINTAS BAHASA

Pukul 05.00 di hari kamis kami telah sampai di stasiun gubeng. Di stasiun inilah untuk pertama kalinya aku bertemu dengan  Ari Ganesa. Tepat pukul 06.00 pagi kereta Pasundan yang kami bertiga tumpangi berangkat. Di awal perjalanan aku dan ari bercerita-cerita mengenai perjalan kami sebelumnya, sementara Eva memandangi pemandangan dari jendela yang berisikan pemandangan persawahan dengan rumah-rumah penduduk.
Dari seberang kursi saya duduk seorang remaja yang kira-kira berumur belasan  dengan berpakaian  kostum Bonek  yaitu sporter Persebaya. Baru beberapa saat aku ketahui namanya yaitu Adi. Ia akan mengunjungi ayahnya yang bekerja di Jogyakarta , sementara ia sendiri tinggal di Surabaya. “lho iki arek wedok-wedok kabeh arep munggah gunung, mbak ?” tanya dia, “Wah mbak arekmanita yo kan arek malang, ?” karena hanya aku jawab dengan senyuman ia kembali bertanya. Antara kami langsung saja mengalir perbincangan yang menyenangkan dengan bahasa khas jawa timur mulai topik persebakbolaan Indonesia   sampai pemerintahan. Pukul 11.10 kereta kami telah sampai di Satasiun kota Jogyakarta Adi langsung saja turun. Tak lama kemudian dia digantikan oleh seorang bapak-bapak. Beliau tampak mengamati kami bertiga sambil melihat barang-barang kami yang di letakan di bagasi atas yang menguasai seluruh tempat. “Badhe dateng pundi tas’ipun ageng-egeng, mbak ?” tanya beliau dengan bahasa krama alus. Pertanyaan itulah yang pertama kali terlontar dari beliau dan sekaligus menjadi pengawal perbincangan diantara kami. Untung saja aku sedikit bisa bahasa karma alus …hehehe, kalau tidak sungguh sangat memalukan mengaku anak Jawa timur tetapi tidak bisa berbahasa dengan benar. Sambil bercakap-cakap aku juga mengamati seorang wanita tua yang menjajakan buah duku dan salak. Jadi teringat sebuah lagu yang ber lirk “duku opo salak isi cilik-cilik” tetapi bukan itu yang ada dalam pikiranku sebenarnya. Dia membawa 5 keranjang penuh buah yang berkali-kali berjalan keliling di setiap gerbong dan tak lama kemudian daganganya telah habis terjual. Umur boleh tua tetapi semangat masih tinggi dalam mencari nafkah yang tidak hanya meminta-minta. Salut dech untuk ibu itu….
Sekitar pukul 18.00 kereta kami telah sampai daerah jawa barat dan  beberapa penumpang dalam gerbong yang dari jawa tengah   telah  turun di jawa barat termasuk bapak sebelah saya. Eva dan Ari telah nampak tertidur dalam kereta. Sudah 12 jam aku berada dalam kereta walaupun badan terasa lelah tetapi tak sedikipun rasa bosan yang ada. Suasana dalam kereta sedikit ku rasakan berubah karena hampir semua penumpang dan pedagang berbincang bincang dalam bahasa sunda yang tidak aku mengerti artinya. Mereka semua menjadi tontonan tersendiri untuku. Dalam telinga terdengar lucu dan asyik, benar-benar berbeda dengan bahasa jawa.  Kereta  kami tumpangi memang kereta ekonomi tetapi justru inilah kereta yang mencirikan penduduk Indonesia. Padahal kami masih dalam satu pulau yaitu pulau Jawa tetapi  bahasa daaerah yang ada sungguh sangat beragam.

“GO” CIPANAS

Pukul 24.25 kami telah sampai di stasiun kiara condong.  Untung saja saat itu ada rombongan TNI yang  memberi kami tumpangan dari stasiun kiara condong sampai dengan terminal leuwipanjang.  Dari terminal leuwipanjang kami  bertiga menuju ke daerah Cipanas.   Terminal Leuwipanjang tampak sepi dan lengang.  Sambil menunggu bis berangkat,  ingin sekali tidur dalam bis tetapi  pak sopir terus saja merokok dan selain itu hanya kami bertiga cewek di antara semua orang di terminal leuwipanjang  sehingga saya harus tetep siaga dengan barang bawaaan kami semua (maaf para pak sopir dan kernet…).  Menurut pak sopir perjalanan ke Cipanas  dari  Leuwipanjang sekitar  2 jam dan  pukul 01.47 bis baru diberangkatkan. Tidak banyak penumpang yang ada dalam bis, tetapi suasana dari luar jendela   tampak ramai oleh orang yang akan bekerja. Jalanan  berkelok-kelok dan tampak villa berjejer  di luar, beberapa menit kemudian pak sopir telah beteriak “cipanas-cipanas yang mau camping, turun !!”.

MENDAKI

Dari Cipanas untuk menuju Cibodas kami naik angkutan umum seperti mikrolet gitu. Pukul 06.16, har kami telah sampai di Cibodas.  Di Cibodas telah ramai oleh para pendaki, mulai anak-anak berumur 5-8 tahun sampai kakek-kakek dengan umur lebih dari 60 tahun. Wah sungguh pemandangan yang berbeda dari gunung-gunung  yang aku daki selama ini. Baru berjalan 5 menit kami putuskan untuk mengisi perut kami yang dari semalam belum terisi. Di pos 1 inilah kami bertiga seperti jadi tontonan banyak orang yang dengan  cepat membuat kami  terkenal diantara para pendaki.
Setelah perut terisi penuh walaupun blm tidur selama 2 malam tetapi semangat masih  tinggi. Saat seperti inilah pemanasan benar- benar di butuhkan. Dari pos perijinan jalanan masih landai yang berupa batuan tertata rapi sehingga memudahkan perjalanan. Aku dan Ari terus berjalan di depan, sementara Eva berjalan dengan seorang pemuda yang mau berbaik hati membawakan carrienya sampai ke Air terjun Cibeurem.  Di air terjun Cibeurem kita dapat beristirahat dan mengisi perbekalan air jika telah habis.
Dari air terjun Cibeurem jalanan mulai menanjak.  Sesekali kita akan melewati aliran sungai kecil sehingga dibutuhkan sepatu waterproof jika tidak ingin basah. Eva telah nampak kelelahan  (maklumlah ini pengalaman dia pertama, tetapi semangatnya ketika mendaki cukup tinggi) sehingga saya pun terpaksa mengurangi kecepatan berjalan dan menyesuaikan dengan eva, sementara ari telah berjalan di depan meninggalkan kami berdua. Beberapa pendaki lain yang bertemu di pos 1 tadi saling memberi semangat kepada eva. Maklum, buat Eva ini adalah pendakian dia yang pertama dan akupun salut untuk dia.
Setelah berjalan kira-kira  dua jam perjalanan  sampailah kami berdua di  sungai air panas diatas ketinggian 2150 mdpl. Karena sepatu saya bukan waterproof sehingga saya dapat merasakan panasnya air sungai ini ya mungkin bisa sampai 70’ C karena cukup membuat kaki menjadi merah. Suasana di sungai air panas sangatlah indah karena uap dari air ini seolah seperti kabut asap, sementara kita harus berjalan hati-hati dengan melewati balok titian dengan tali. Setelah melewati sungai air panas  kami melewati sungai kering berbatu yang seperti lembah  dan di sebelah tampak air terjun. Rasa lelah terobati oleh indahnya pemandangan di sekitar. Sebuah air terjun yang cukup lebar dan suara burung-burung yang mengalunkan musik alam dan tak terasa sampailah di  kandang batu. Dari Kandang Batu lintasan mulai menanjak dan terjal, banyak material batu yang memperberat langkah. Setelah  terus mendaki  sekitar 1,5 jam  kami berdua bertemu dengan dua pemuda.  “ Dari mana kalian ?” tanya seorang dari mereka. “Jawa Timur-Surabaya” jababku. “Oh berarti temanya Ari, dia telah menunggu di kandang badak, sedikit lagi sampai” katanya.

Benar sekali tidak lama kemudian kami telah sampai di Kandang Badak sekitar pukul 02.46.  Kandang Badak ketinggian 2395 mdpl.  Di kandang Badak kami bertemu kembali dengan Ari dan beberapa teman baru. Mereka adalah tim dari Jakarta yang terdiri dari Mas Ipung, Pak Mi, Pak Pras, Mas Pay, Mas Eris, Mbak Tami, Bu Susi,  mbak Nia, Sarah dan Nisa. Termasuk 2 pemuda yang sebelumnya menyapa kami berdua yaitu Hatim dan Mas Ari. Total dari mereka adalah 12 orang. Mereka sangat ramah dan baik. Keramahan mereka terlihat dari cara mereka mempersilahkan kami betiga untuk bergabung menikmati makanan yang ada. Rasa lelah dan sedikit kecewa yang ada dalam awal perjalanan telah hilang. dengan cepat kami pun menjadi akrab.


PUNCAK PANGRANGO

Sekitar pukul 16.30, kami melanjutkan pendakian ke puncak Pangrango. Dari kandang badak  menuju puncak perjalananya semakin sulit dengan melewati vegetasi Sub Alpin yang rimbun dan lebat. Banyak sekali pohon tumbang yang membuat kita merangkak  di bawah pohon ataupun meloncati nya dengan carrie di punggung. Ditambah lagi guyuran hujan gerimis yang menambah rintangan buat kami semua.  Saat itu saya berjalan di barisan paling akhir bersama Eva, mbak Tami, ibu Susi , mas Ipung dan Pak Pras. Sekitar pukul 19.00 hari telah gelap, napas terasa sesak dan smua ketakutkan datang dengan cepat tanpa terkendali, cuaca dinggin pun telah menyerang. Oup, saat itu aku benar-benar masuk angin, padahal baru sekali jalan. Membuat kami terpaksa mendirikan tenda di tengah jalur setapak pendakian.  Sementara Ari telah berjalan di depan bersama bapak-bapak dari Wanadri yang membuat kami terpisah kembali.
Keesokan  dengan kondisi yang cukup baik di hari sabtu kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Mbak nia, saya dan pak mi berjalan dahulu di depan , menurut pak mi puncak hanya 500m perjalanan lagi. Walaupun demikian perjalanan di puncak memang sedikit sulit karena kemiringin tanah yang hampir 45 derajat. Kami pun  beberapa kali harus memanjat akar dari sebuah pohon yang besar.  Setelah satu jam mendaki ,, akhirnya kami semua sampai di puncak Pangrango. Di puncak saya bertemu Ari Kembali dan ia mengalami cidera kaki (Semoga lekas Sembuh ya…). Puncak Pangrango berbeda sekali dengan kebanyakan gunung di jawa timur yaitu  datarannya sangat rimbun dan sepi, dari sini terlihat Puncak Gunung  Gede. Setelah dari puncak kami menuju ke lembah Mandalawangi, sayangnya saat itu belum banyak eidelweis yang bermekaran.  Di lembah Mandalawangi inilah kami berfoto-foto dan sempat bertemu dengan beberapa pendaki lain.
Setelah puas berfoto-foto kami akhirnya turun menuju kandang Badank. Perjalan turun inilah yang menyenagkan kita tinggal berselancar. Jika untuk naik ke puncak kami membutuhkan waktu 4 jam dengan beberapa kali istirahat tapi untuk turun kami hanya memerlukan waktu 1,5 jam saja. 

FREE TIME in Kandang Badak 

Di kandang badak kami bercam, melakukan berbagai macam kegiatan yang menyengkan, mulai sekedar berbincang-bincang , masak-memasak, tidur-tiduran sampai main kartu.
Dalam rencana awal kami bertiga adalah hari sabtu itu juga kami pulang, karena ari senin harus menuju  Makasar tetapi saat itu Ari telah turun dan pulang terlebih dahulu. Akhirnya ada sebuah ajakan dari ibu Susi, “ gimana kalau besok saja kalian turun dan besok kita sekalian ke puncak gunung Gede” katanya. “iya, skalian saja bareng dengan kami” kata mas pay. “ sayang , dah jauh-jauh ke bandung, tidak ke Gede skalian” bujuk pak pras.  Akhirnya saya dan eva memutuskan untuk tinggal semalam lagi dan keesokanya kami mendaki gunung gede (maaf yaa, buat muridku, belajar sendiri dulu..). Mereka semua benar-benar orang baik yang memiliki slogan unik yaitu “Bersama kami anda save and free”. (hehehe).
Dalam sebuah pendakian  biasa kita bertemu orang baru saling bantu-membantu, saling menawarkan makanan dan saling memberikan semangat.  Sama seperti halnya sekarang kami sudah tidak berdua lagi, kami telah menjadi 12 orang yang bergabung menjadi satu tim. Padahal kami sebelumnya tidak saling kenal dan seperti inilah gunung menjadi tempat yang indah yang mempersatukan seluruh orang tanpa membedakan suku, agama, usia karena tujuan kami hanya satu mengalahkan kelemahan diri sendiri dengan mencapai puncak.

PUNCAK GEDE

Di kandang badak, pada hari minggu tepat pukul 7.00 kami berdoa dan siap mendaki menuju  Puncak Gede. Kali ini pendakian kami hanya 9 orang karena mas pay , Eva dan Nisa menunggu di kamp di kandang Badak.  Pendakian ke puncak gunung gede berbeda dengan puncak pangrango.  Perjalanan menuju puncak gede didominasi oleh bebatuan yang terjal. Setelah berjalan 2 jam kami melewati “tanjakan setan” dan untungya ada tanjakan lain yang gak bikin lelah.  Selepas tanjakan setan  akan ditemukan kawah Ratu dan Kawah Wadon, kawah Baru, kawah Lanang serta kawah Sela dan terakhir kawah gunung Gede di ketinggian 2958 mdpl dengan uap belerang yang menyengat.  Perjalanan semakin sulit karena ketika cuaca hujan. Suara kilatan petir yang terus menyambar menambah Keagungan Puncak Gede. Sialnya, aku kembali drop lagi, ntalah... Kawah gunung gede tampak terus mengeluarkan asap dan bau belerang yang menyengat. Saat pukul 1 siang kami segera turun menuju kandang badak dan gerimis pun masih mengantar kepulangan kami. sungguh kawah gede yang indah yang sesaat selalu tertutup kabut tipis membuat kami tersa enggan meninggalkanya karena  lembah Surya Kencana yang belum sempat aku temui dan suatu saat aku akan kembali...

TURUN GUNUNG !!!

Sekitar pukul 16.25, kami telah  membereskan semuanya  dan segera turun menuju Cibodas. Rasa lelah benar-benar terasa.  Dari kandang badak sampai air panas aku berjalan di rombongan kedua, bersama pak mie, mbak nia,bu susi, eva dan mas pay. Tetapi setelah air panas saya sedikit tertinggal dan berjalan berdua bersama mas pay.  Karena hari telah malam oksigen tersa berkurang jalan mulai melambat dan baru pukul 18.14 kami berdua telah sampai di air terjun Cibereum.  Bersama pak mi dan mas pay sambil beristirahat kami bertiga menunggu rombongan yang di belakang. Dan setelah dirasa lama akhirnya mas pay dan pak mi menyusul mereka.  Tak di sangka ternyata Hatim mengendong sarah yang kakinya terkilir, mbak tami pun ternyata juga mengalami cidera di kaki yang dipapah oleh pak pras. Dengan perlahan tapi pasti kami segera turun menuju Cibodas. Jalan berbatu yang ketika siang terasa memudahkan dan pendek tetapi saat itu terasa jauh dan tiada henti. 
Akhirnya pukul 23.00 kami telah berkumpul di Cibodas dan segera menuju ke terminal rambutan. Sangat tidak mungkin untuk kami berdua melanjutkan perjalanan. bahkan melihat kondisi Eva yang drop aku tidak mungkin memaksanya untuk malam itu juga bermalam ataupun pulang dengan bis. 
Karena hari telah larut saya dan eva diberi tumpangan di rumah mbak tami. Keluarga mbak Tami pun sangat baik kepada kami berdua. di pagi hari bubur lezat nan hangat telah dihidangkan menjadi menu awal yang paling nikmat setelah mendaki (terimakasih Ibu mbak Tami). Sekitar pukul 07.00 ayah dan adek mbak tami dengan baik hatinya mengantar kami  dahulu ke depan gang padahal mereka akan bekerja (terimakasih banyak kluarga mbak Tami maaf merepotkan,). 

“ENDING”
Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan, di tempat baru menemukan saudara baru. Dari seseorang yang  tidak mengenal menjadi saudara yang saling bantu-membantu. Saya mendapatkan banyak pelajaran mulai kesabaran, memaafkan,  sampai dengan perjuangan. Sungguh suatu Anugrah dari Allah yang mempertemukan kami semua.

Special "Thank" kepada mereka yang mengukir cerita..
Eva : seorang teman kos yang baru pertama meraskan mendaki gunung dengan semangat. Makasih telah memberikan pengalaman tersendiri buatku
Ari : seseorang yang mumiliki kemauan keras. Makasih telah telah memberikan pelajaran untuku.
Ibu Susi : Seseorang ibu yang ramah dan benar-benar keibuan banget dengan semua perhatianya dan kasih sayang. Terimakasih telah menerima kami berdua dengan hangat.
Pak Mi : Seorang bapak yang selalu memberikan  pesan, nasehat dan pelajaranya selama perjalan turun. bener2 terasa pendekar wanita dengan kekuatan baru setelah turun gunung.
Pak pras : Seorang guru olah raga yang kocak habis, baik hati. makasih buat ilmu kesehatan yang dibagikan.
Mbak tami n keluarga : Sekilas dia keras kepala dan agak cuek. tetapi justru  dia seorang yang peduli dan seorang yang tegas. Maksih buat tumpanganya dan  makasih telah menjadi kakaku ...(hehehe pingin punya kakak cwek yang kayak gini, suka bolang n baik hati)
Mas ari : Seseorang yang pendiam tetapi sekali bicara selalu langsung ke inti. Makasih telah membawakan tenda kami
Mas Eris : Seorang Pecinta alam sejati. terimakasih telah membersihkan gunung dari sampah.
Mas Ipung : Seorang yang unik dan selalu bercanda. Maksih buat semangat yang diberikan.
Sarah n Nisa : Dua orang saudara yang kompak dan bikin iri akan keakraban mereka berdua. Walaupun sedikit manja mereka manis dan selalu bersemangat.
Mas pay : Seorang yang baik hati dan juga konyol. Terimakasih telah menemani perjalan turunku..
Mbak Nia. : Seseorang yang baik hati. terimakasih telah menemani hari-hariku di pangrango-gede.
Hatim : Seorang yang tangguh banget dan setia kawan. Terimakasih atas petunjuk dan bimbinganya.
Read More - Gunung Pangrango (3019 mdpl) & Gunung Gede (2958 mdpl)
Read More - Gunung Pangrango (3019 mdpl) & Gunung Gede (2958 mdpl)