Senin, 01 Agustus 2011

MATERIALITAS, RESIKO, DAN STRATEGI AUDIT PENDAHULUAN (Tugas Resumq Audit 1/8)





MATERIALITAS
Materialitas merupakan dasar penerapan dasar auditing, terutama standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas suatu pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji itu.
Dalam laporan audit atas laporan keuangan, auditor tidak dapat memberikan jaminan (guarantee) bagi klien atau pemakai laporan keuangan yang lain, bahwa laporan keuangan auditan adalah akurat.

Pertimbangan Awal tentang Materialitas
Auditor melakukan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas dalam perencanaan auditnya. Penentuan materialitas ini, yang seringkali disebut dengan materialitas perencanaan, mungkin dapat berbeda dengan tingkat materialitas yang digunakan pada saat pengambilan kesimpulan audit dan dalam mengevaluasi temuan audit karena (1) keadaan yang melingkupi berubah (2) informasi tambahan tentang klien dapat diperoleh selama berlangsungnya audit.

Materialitas pada tingkat Laporan Keuangan
Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas. (1) auditor menggunakan materialitas dalam perencanaan audit dan (2) pada saat mengevaluasi bukti audit dalam pelaksanan audit.

MATERIALITAS pada Tingkat Saldo akun
Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang mungkin terdapat dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji material. Konsep materialitas pada tingkat saldo akun tidak boleh dicampuradukkan dengan istilah saldo akun material.

Alokasi MATERIALITAS laporan Keuangan ke Akun
Dalam melakukan alokasi, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya salah saji dalam akun tertentu dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memverifikasi akun tersebut.

Hubungan antara MATERIALITAS dengan bukti audit
Materialitas merupakan satu diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pertimbangan auditor tentang kecukupan ( kuantitas ) bukti audit. Dalam membuat generalisasi hubungan antara materialitas dengan bukti audit, perbedaan istilah materialitas dan saldo akun material harus tetap diperhatikan. Semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar jumlah bukti yang diperlukan ( hubungan terbalik ).

RISIKO AUDIT
Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan risiko audit. Menurut SA Seksi 312 risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit, risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material.

RISIKO Audit Keseluruhan ( Overall Audit Risk )
Risiko audit dapat ditaksir secara kuantitatif atau kualitatif. Dalam penentuan risiko audit keseluruhan, auditor juga menyatakan tingkat kepercayaan (level of confidence).

RISIKO Audit Individual
Karena audit mencakup pemeriksaan terhadap akun-akun secara indivual, risiko audit keseluruhan harus dialokasikan kepada akun-akun yang berkaitan.

Unsur RISIKO Audit
Terdapat tiga unsur risiko audit : (1) Risiko Bawaan, (2 ) Risiko Pengendalian, (3) Risiko Deteksi

Penggunaan Informasi RISIKO Audit
Taksiran risiko audit pada tahap perencanaan audit dapat digunakan oleh auditor untuk menetapkan jumlah bukti audit yang akan diperiksa untuk membuktikan kewajaran penyajian saldo akun tertentu.

Risiko audit individual = risiko bawaan x risiko pengendalian x risiko deteksi
Dari formula tersebut, risiko deteksi dapat dihitung dengan formula berikut ini :
Risiko deteksi = Risiko audit individual
Risiko bawaan x Risiko pengendalian

Hubungan antar Unsur RESIKO
Risiko bawaan dan risiko pengendalian berbeda dengan risiko deteksi. Kedua risiko yang disebut terdahulu ada, terlepas dari dilakukan atau tidaknya audit atas laporan keuangan, sedangkan risiko deteksi berhubungan dengan prosedur audit dan dapat diubah oleh keputusan auditor itu sendiri. Risiko deteksi mempunyai hubungan yang terbalik dengan risiko bawaan dan risiko pengendalian.

Hubungan antara MATERIALITAS, RISIKO AUDIT, dan BUKTI AUDIT
Berbagai kemungkinan hubungan antara materialitas, risiko audit, dan bukti audit digambarkan sebagai berikut :
1.      Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat materialitas dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti audit yang di kumpulkan.
2.      Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat.
3.      Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat menempuh salah satu dari tiga cara berikut ini :
a.       Menambah tingkat materialitas, sementara itu mempertahankan jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
b.      Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat materialitas tetap dipertahankan.
c.       Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat materialitas secara bersama-sama

STRATEGI AUDIT AWAL
Strategi audit awal dibagi menjadi dua macam : (1) Pendekatan Terutama Substantif, (2) Pendekatan Risiko Pengendalian Rendah.
Unsur STRATEGI AUDIT AWAL
Dalam mengembangkan strategi audit awal untuk suatu asersi, auditor menetapkan empat unsur berikut ini :
1.      Tingkat risiko pengendalian taksiran yang direncanakan.
2.      Luasnya pemahaman atas pengendalian intern yang harus diperoleh.
3.      Pengujian pengendalian yang harus dilaksanakan untuk menaksir risiko pengendalian.
4.      Tingkat pengujian substantif yang direncanakan untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah.
Read More - MATERIALITAS, RESIKO, DAN STRATEGI AUDIT PENDAHULUAN (Tugas Resumq Audit 1/8)
Read More - MATERIALITAS, RESIKO, DAN STRATEGI AUDIT PENDAHULUAN (Tugas Resumq Audit 1/8)

ACCEPTING THE ENGAGEMENT AND PLANNING THE AUDIT (Resum Audit 1 bab 7)


Terdapat 4 tahapan dalam audit (phases of an audit) yaitu:
1.                  Menerima dan mempertahankan klien.
Tahap awal dari audit laporan keuangan melibatkan suatu keputusan untuk menerima atau menolak kesempatan untuk menjadi auditor dari klien baru atau untuk melanjutkan sebagai auditor bagi klien yang sudah ada. Standar pengendalian mutu menyediakan petunjuk profesional berkenaan dengan keputusan untuk menerima dan melanjutkan klien dan perikatan, sejalan dengan standar umum dan standar pekerjaan lapangan dari standar auditing yang berlaku umum.

2.         Merencanakan audit.
Memerlukan pengembangan suatu strategi audit untuk pelaksanaan audit dan penentuan lingkup audit. Perencanaan penting agar suatu perikatan audit berjalan dengan sukses baik standar umum dan standar pekerjaan lapangan yang menyediakan pedoman profesional berkenaan dengan perencanaan audit.

3.         Melaksanakan pengujian audit.
Tahap ini juga disebut sebagai pelaksanaan pekerjaan lapangan (field work) karena pengujian biasanya dilakukan atas ijin klien. Tujuan utama adalah untuk memperoleh bukti audit mengenai kondisi ekonomi klien, efektivitas pengendalian intern, kewajaran laporan keuangan klien.

4.         Melaporkan temuan.
Tahap akhir dari audit adalah pelaporan temuan-temuan. Elemen penting dari setiap audit adalah komunikasi mengenai temuan audit. Auditor membuat laporan kepada manajemen dan dewan direksi beserta temuan tentang pengendalian intern dan masalah lain yang memerlukan perhatian manajemen.


MENGEVALUASI INTEGRITAS MANAJEMEN
Tujuan utama dari audit laporan keuangan adalah untuk memberikan suatu pendapat atas laporan keuangan manajemen. Jadi penting bagi auditor untuk menerima suatu perikatan audit hanya apabila terdapat keyakinan yang memadai bahwa manajemen klien dapat dipercaya. Bila manajemen kurang memiliki integritas , terdapat kemungkinan kekeliruan (error) yang material dan ketidakberesan (irregularities) akan terjadi dalam proses akuntansi di mana laporan keuangan dibuat.

1.       Berkomunikasi dengan auditor terdahulu.
Untuk klien yang pernah diaudit, pengetahuan mengenai manajemen klien yang diperoleh auditor terdahulu (predecessor auditor) merupakan informasi penting bagi auditor pengganti (successor auditor). Komunikasi dapat dilakukan tetapi harus seijin klien dan diminta untuk mengotorisasi auditor terdahulu untuk menjawab dengan lengkap pertanyaan auditor pengganti. Otorisasi diperlukan karena kode etik profesi melarang seorang auditor untuk mengungkapkan informasi rahasia yang diperoleh.
2.      Mengajukan pertanyaan kepada pihak ketiga lainnya.
Informasi mengenai integritas manajemen juga dapat diperoleh dari pihak lain yang memiliki pengetahuan di bidangnya seperti; pengacara, bankir dan pihak lain dalam komunitas keuangan dan bisnis yang berhubungan bisnis dengan calon klien.
3.      Me-review pengalaman masa lalu dengan klien yang telah ada.
Sebelum membuat keputusan untuk melanjutkan suatu perikatan dengan klien audit, auditor harus berhati-hati dalam mempertimbangkan pengalaman masa lalu dengan manajemen klien.
MENGIDENTIFIKASI KONDISI KHUSUS DAN RISIKO YANG TIDAK BIASA
        Elemen penting dari audit melibatkan penilaian risiko salah saji material dalam laporan keuangan. Akuntan publik juga menaruh perhatian terhadap resiko bisnis auditor (auditor’s business risk) jika dihubungkan dengan perusahaan yang memiliki masalah keuangan atau kelangsungan usaha, pihak yang dirugikan dapat menuntut keandalan laporan keuangan.
1.      Mengidentifikasi pemakai laporan yang telah diaudit.
Tanggung jawab hukum auditor atas audit bervariasi, tergantung pada pemakai laporan. Oleh karena itu auditor harus mempertimbangkan status badan hukum dari calon klien.
2.      Menilai stabilitas keuangan dan hukum calon klien.
Jika suatu entitas mengalami kesulitan hukum, maka perkara hukum sangat mungkin akan melibatkan auditor yang sering dianggap memiliki “deep pockets”. Oleh karena itu auditor harus mengidentifikasi calon klien yang memiliki risiko tinggi untuk di tuntut.
3.      Mengidentifikasi Pembatasan lingkup.
Ketika menerima suatu perikatan, seorang auditor harus mengevvaluasi apakah pembaasan lingkup audit meningkatkan risiko yang menyebabkan auditor tidak dapat menerbitkan pendapat.
4.      Mengevaluasi sistem pelaporan keuangan entitas dan kemampuan audit.
Seorang auditor harus mengevaluasi kondisi lain yang meningkatkan pertanyaan mengenai kemampuan audit atau auditabilitas calon klien. Dengan semakin bergantungnya perusahaan pada pemrosesan data elektronik auditor harus mempertimbangkan implikasi apakah bukti penguat tersedia dalam bentuk dokumen atau dalam bentuk elektronik, dimana auditor ragu dan khawatir tentang catatan akuntansi atau jejak audit, maka sebaiknya perikatan tersebut ditolak.

MENILAI KOMPETENSI UNTUK MELAKSANAKAN AUDIT
Standar umum pertama dari GAAS menyatakan; “ Audit dilaksanakan oleh seseorang atau orang-orang yang memiliki pelatihan teknis dan kecakapan yang memadai sebagai seorang auditor.
1.       Jasa yang diinginkan.
Kebanyakan klien memerlukan suatu audit juga memerlukan jasa tambahan. Oleh karena itu auditor dapat membuat rekomendasi tentang bagaimana meningkatkan kinerja bisnis setelah auditor memahami keadaan yang dibutuhkan oleh klien serta berusaha meningkatkan keahlian dalam sistem informasi dan pengendalian intern.

2.      Mengidentifikasi Tim audit
Penempatan staf audit sebagai suatu tim audit (audit team) dalam pengumpulan bukti diperlukan untuk pengendalian kualitas dari hasil audit. Umumnya tim audit terdiri dari:
·         Seorang partner, yang memiliki baik tanggung jawab keseluruhan maupun tanggung jawab akhir untuk suatu perikatan.
§  Satu atau lebih manajer, yang biasanya memiliki keahlian signifikan dalam industri dan yang mengkoordinasikan serta mengawasi pelaksanaan program audit.
§  Satu atau lebih senior, yang mungkin memiliki tanggung jawab untuk merencanakan audit, melakukan bagian dari program audit dan mengawasi serta me-review pekerjaan asisten staf.
§  Asisten staf, yang melakukan berbagai prosedur audit yang diperlukan.

3.      Mempertimbangkan kebutuhan untuk kosultasi dan spesialisasi
Dalam menentukan apakah akan menerima suatu perikatan, adalah lebih baik bagi seorang auditor untuk mempertimbangkan apakah akan menggunakan jasa konsultan dan spesiali untuk membantu tim audit dalam melakukan audit. Elemen pengendalian mutu mengenai konsultasi menyatakan bahwa perusahaan seharusnya mengadopsi kebijakan dan prosedur untuk menyediakan keyakinan yang memadai bahwa personel akan mencari bantuan hingga sejauh yang diperlukan.
MENGEVALUASI INDEPENDENSI
Standar umum kedua dari GAAS menyatakan: dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikam mental perlu dipertahankan oleh para auditor. Independensi dalam perikatan audit diwajibkan karena merupakan elemen dalam pengendalian mutu. Apabila persyaratan independensi tidak dapat dipenuhi, maka perikatan harus ditolak atau calon klien harus diberitahu dan tidak memberikan pendapat (disclaimer) atas laporan keuangan, guna terhindar dari konflik kepentingan.


KEPUTUSAN UNTUK MENERIMA ATAU MENOLAK AUDIT
Kondisi yang dapat menyebabkan KAP menarik diri dari suatu audit termasuk:
Kekhawatiran mengenai integritas manajemen atau penahanan bukti yang tampak selama audit.
Klien menolak untuk membenarkan salah saji material dalam laporan keuangan.
Klien tidak mengambil langkah yang tepat untuk memperbaiki kecurangan atau tindakan melawan hukum yang ditemukan selama Audit. 
MEMPERSIAPKAN SURAT PERIKATAN
langkah akhir dari tahap penerimaan, merupakan praktek profesional yang baik untuk mentaati syarat-syarat dari setiap perikatan dalam surat
Read More - ACCEPTING THE ENGAGEMENT AND PLANNING THE AUDIT (Resum Audit 1 bab 7)
Read More - ACCEPTING THE ENGAGEMENT AND PLANNING THE AUDIT (Resum Audit 1 bab 7)

BUKTI AUDIT, TUJUAN AUDIT, PROGRAM AUDIT, DAN KERTAS KERJA (bab 6/audit)


Auditor mengawali perencanaan audit dengan meletakkan akhir audit dibenak nya,sejak awal teah disebutkan bahwa tujuan menyeluruh audit laporankeuangan adalah menyatakan pendapat tentang apakah laporan keuanganklien menyajikan secara wajar,salam semua hal yang material,sesuai denganGAAP.untuk itu auditor hars memperoleh bahan bukti audit yang cukup dankompeten sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat,disamping itu,pilihan akan bukti audit dipengaruhi oleh : 

1.      Pemahaman auditor atas bisnis dan industri klien.
2.      Perbandingan antara harapan auditor atas laporan keuangan  denganBuku dan catatan klien.
3.      Keputusan tentang  asersi yang material bagi laporan keuangan.
4.      Keputusan tentang risiko bawaan dan risiko pengendalian.  

AUDIT  TOP-DOWN  VS AUDIT  BOTTOM-UP

Bukti audit top-down berfokus pada upaya auditor dalam memperolehpemahaman tentang bisnis dan industri,tujuan manajemen,bagaimanamanajemen menggunakan sumber dayanya untuk mencapaisasaran,keunggulan kompetitif organisasi di pasaran, proses bisnis inti, sertalaba dan arus kas yang dihasilkan. Proses audit top-down memberikan buktitentang risiko bisnis  strategis yang dihadapi klien,bagaimana klien menanggapirisiko tersebut,dan kelangsungan entitas.  Bukti audit bottom-up berfokus pada pengujian secara langsung antartransaksi,saldo akun,serta sistem yang mencatat transaksi tersebut yang padaakhirnya menghasilkan saldo aku.bukti audit bottom-up meliputi beberapa bentuk penarikan sample transaksi,atau penarikan sample terperinci yangmendukung saldo akun.

KEPUTUSAN PENTING TENTANG BUKTI AUDIT 
Ketika merencanakan audit,auditor harus membuat 4 keputusan pentingtentang lingkup dan pelaksanaan audit.keputusan tersebut meliputi :

1.      Sifat pengujian yang harus dilakukan.
2.      Saat pengujian yang harus dilakukan.
3.      Luas pengujian yang arus dilakukan.
4.      Penetapan staff untuk melaksanakan audit. 



SIFAT PENGUJIAN AUDIT
Sifat pengujian audit mengacu pada sifat dan efektifitas pengujian audit yangakan dilaksanakan.
Pertama,prosedur audit tersebut harus dapat memberikanbukti tentang kinerja kompetitif suatu entitas atau terkait dengan tujuanspesifik yang ingin dicapai auditor.auditor juga harus mempertimbangkanbiaya relatif dan efektifitas prosedur dalam kaitannya dengan tujuan audityang spesifik. 
.
SAAT PENGUJIAN AUDIT
Saat mengacu pada kapan auditor akan melaksanakan pengujian audit sertamenarik kesimpulan audit.pengujian audit pada tanggal interim dapatmemberikan pertimbangan awal mengenai masalah-masalah signifikasi yangdapat mempengaruhi laporan keuangan pada akhir tahun buku.auditor jugadapat memilih untuk melaksanakan pengujian substantif tentang kewajaransaldo akun sebelum tanggal neraca. 

LUAS PENGUJIAN AUDIT
Luas prosedur audit berkaitan dengan keputusan auditor tentang berapabanyak bukti audit yang harus diperoleh .bukti yang lebih banyak diperlukanuntuk mencapai suatu tingkat resiko deteksi yang rendah dibanding dengantingkat resiko yang tinggi. 

PENETAPAN STAFF AUDIT
Auditor harus ditugaskan pada tugas-tugas yang telah ditetapkan dan disupervisi sesuai dengan tingkat pengetahuan ,keterampilan,dan kemampuannya sehingga mereka dapat mengevaluasi bukti audit yang sedangdiperiksa. Auditor membuat 4 pilihan penting yang berkaitan dengan bukti audit.

1.      Bukti apa yang akan diperoleh ( sifat )
2.      Bilamana akan memperoleh bukti ( saat ).
3.      Berapa banyak bukti yang akan diperoleh ( luas ).
4.      Siapa yang akan ditugaskan untuk memperoleh bukti ( staff audit )    

TUJUAN AUDIT SPESIFIKDA BUKTI AUDIT
Asersi manajemen dalam laporan keuangan menjadi pedoman bagiauditor untuk merencanakan pengumpulan bukti audit.5 asersi manajemenyang digariskan dalam standar auditing yang berlaku umum ( GAAS) : 

1.      Keberadaan dan keterjadiaan.
2.      Kelengkapan.
3.      Hak dan kewajiban.

4.      Penilaian atau alokasi.

Penyajian dan pengungkapan. Dalam memperoleh bukti untuk mendukung pendapat atas laporanKeuangan,auditor mengembangkan tujuan audit spesifik bagi setiap akundalam laporan keuangan.auditor mengidentifikasikan tujuan audit  spesifikberdasarkan asersi manajemen dalam laporan keuangan karna setiap tujuanaudit memerlukan bukti audit yang berbeda pula. Tujuan audit spesifik dikembangkan untuk setiap asersi,selail itu tujuanaudit juga dikembangkan untuk :
1.Transaksi relevan yang mempengaruhi piutang usaha.
2.Aspek penting pada saldo akun piutang usaha sebagaimana dilaporkanpada tanggal neraca

Dalam audit, bahan bukti merupakan informasi yang digunakan auditor untuk menentukan apakah informasi kuantitatif yang sedang diaudit disajikan sesuai kriteria yang ditetapkan.
Perbandingan untuk membedakan bahan bukti:
• Tujuan penggunaan bahan bukti
• Sifat bahan bukti yang digunakan
• Pihak yang mengevaluasi bahan bukti.
• Kepastian dari kesimpulan berdasarkan bahan bukti
• Sifat kesimpulan
• Konsekuensi yang timbul akibat kesimpulan yang salah dari bahan bukti

Bahan Bukti Yang Menyimpulkan

Suatu bahan bukti dapat memberikan kesimpulan apabila :

1. Relevan, berkaitan terhadap tujuan pengujian auditor
2. Kompeten, menunjukkan tingkat dapat dipercayainya suatu bahan bukti
Kompetensi dapat diperbaiki dengan :
• Independensi penyedia data
• Efektifitas struktur pengendalian intern
• Pengetahuan yang diperoleh sendiri oleh auditor
• Kualifikasi orang yang menyediakan informasi
• Tingkat objektivitas
3. Kecukupan, jumlah bahan bukti yang diperoleh dibandingkan dengan besar sampel .
4. Ketepatan waktu, saat bahan bukti dikumpulkan, sedekat mungkin dari tanggal neraca.

Jenis Bahan Bukti Audit

Bahan bukti yang digunakan oleh auditor dalam prosedur audit terdiri dari :
• Pemeriksaan fisik .
• Konfirmasi .
• Dokumentasi .
• Pengamatan .
• Tanya jawab dengan klien .
• Pelaksanaan Ulang (Reperformance) .
• Prosedur analitis .
Efektifitas struktur pengendalian intern klien mempunyai pengaruh yang besar pada keandalan kebanyakan jenis bahan bukti. Jenis bahan bukti tertentu jarang mencukupi sendirian untuk memberikan bahan bukti yang kompeten untuk memenuhi satu tujuan





Prosedur Analitis

Adalah evaluasi atas informasi keuangan yang dilakukan dengan mempelajari hubungan logis antara data keuangan dan non keuangan termasuk perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat dengan ekspektasi auditor. Pelaksanaan prosedur analitis dapat dilakukan pada seluruh tahap, baik tahap perencanaan, tahap pengujian dan tahap penyelesaian
Alasan yang terpenting penggunaan prosedur analitis :
• Memahami bidang usaha klien.
• Penetapan kemampuan satuan usaha untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
• Indikasi adanya kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan.
• Mengurangi pengujian audit yang terinci.
• Saat.

Jenis Prosedur Analistis

1. Membandingkan data klien dengan industri sejenis.
2. Membandingkan data klien dengan data yang serupa pada periode sebelumnya
• Perbandingan antara saldo tahun berjalan dengan saldo tahun lalu.
• Membandingakan rincian total saldo dengan rincian serupa pada tahun sebelumnya.
• Membandingkan rasio dan hubungan persentase dengan tahun sebelumnya.
3. Membandingkan data klien dengan data yang diperkirakan oleh klien.
4. Membandingkan data klien dengan data yang diperkirakan oleh auditor.
5. Membandingkan data klien dengan hasil perkiraan yang menggunakan data non keuangan.



Read More - BUKTI AUDIT, TUJUAN AUDIT, PROGRAM AUDIT, DAN KERTAS KERJA (bab 6/audit)
Read More - BUKTI AUDIT, TUJUAN AUDIT, PROGRAM AUDIT, DAN KERTAS KERJA (bab 6/audit)

GAMBARAN UMUM PROSES AUDIT (resum audit 1/ bab 6)


Tujuan menyeluruh dari suatu audit laporan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah menyajikan secara wajar, dalam senua hal yang material sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP).Prosess diagonostik untuk membuat pertimbangan tentang akun yang mungkin mengandung salah saji yang material serta memperoleh bukti tentang penyajian yang wajar dalam laporan keuangan melibatkan sejumlah langkah.
Bab ini berfokus pada tujuh langkah pokok yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan audit laporan keuangan:
1. Memperoleh pemahaman tentang bisnis dan industri
2. Mengindefikasi asersi laporan keuangan yang relevan
3. Membuat keputusan tentang jumlah yang material bagi para pengguna laporan keuangan
4. Membuat keputusan tentang komponen risiko audit
5. Memperoleh bukti melalui prosedur audit, termasuk prosedur untuk memahami pengendalian intern, melaksanakan pengujian pengendalian, dan melaksanakan pengujian substantif
6. Menetapkan bagaimana menggunakan bukti untuk mendukung suatu pendapat audit, komunikasi kepada klien lain, serta jasa bernilai tambah
7. Mengkomunikasikan temuan-temuan.
Berikut ini adalah ikhtisar singkat bagaimana elemen-elemen ini dapat dipadukan bersama dalam pelaksanaan suatu audit. Seorang auditor harus mengembangkan pemahaman tentang bisnis dan industri agar dapat memahami substansi ekonomi suatu transaksi entitas dan bagaimana GAAP diterapkan dalam industri tersebut, serta untuk mengembangkan harapan tentang laporan entitas. Agar dapat mengelola audit tersebut dengan baik, maka auditor harus membagi audit menjadi audit-audit atas saldo akun pertama dan golongan transaksi, dan kemudian audit atas asersi laporan keuangan untuk setiap saldo akun dan golongan transaksi.
- ASERSI MANAJEMEN
Tujuan menyeluruh dari audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah menyatakan secara wajar, dalamj semua hal yang material, sesuai dengan GAAP.Untuk mencapai tujuan tersebut, hal yang lazim dilakukan dalam audit adalah mengidentifikasi sejumlah tujuan audit yang spesifik bagi setiap akunyang dilaporankan dalam laporan keuangan. Tujan yang spesifik ini diambil dari asersi yang dibuat oleh manajemen dan dimuat dalam laporan keuangan.
Laporan keuangan terdiri dari asersi manajemen yang eksplisit dan implisit. Asersi ini merupakan hal yang penting karena menjadi pedoman auditor dalam pengumpulan bukti. Sebagai contoh, perhatikan komponen neraca berikut ini:
Aktiva Lancar:
Piutang Usaha, bersih $40252900
Untuk melaporkan pos ini dalam neraca, manajemen membuat dua asersi eksplisit, yaitu (1) piutang usaha tersebut memang ada, dan (2) Jumlah piutang usaha yang benar setelah dikurangi penyisihan piutang tak tertagih adalah $40252900. Manajemen juga membuat tiga asersi implisit sebagai berikut: (1) semua piutang usaha yang harus dilaporkan telah dilaporkan semuanya, (2) semua piutang usaha yang dilaporkantersebut adalah benar milik entitas, dan (3) semua pengungkapan yang sesuai berkaitan dengan piutang usaha telah dicantumkan dalam catatan atas laporan keuangan. Apabila ada salah satu asersi tersebut yang salah saji, berarti laporan keuangan telah salah saji secara material.
Asersi serupa merndasari semua komponen aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban dalam laporan keuangan. Sesuai dengan itu, Auditing Standard Board (ASB) dalam SAS 31, Evidential Matter (AU 326.03), telah mengakui lima kategori asersi laporan kuangan sebagai berikut:
1. Keberandaan atau keterjadian (existence or occurrence)
2. Kelengkapan (completeness)
3. Hak dan kewajiban (rights and obligations)
4. Penilaian dan alokasi (valuation or allocation)
5. Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure)
Lima kategori asersi ini merupakan hal yang penting karena dapat emmbantu auditor memahami jenis salah saji potensial yang dapat terjadi dalam laporan keuangan, dan dapat membantu auditor mengembangkan perencanaan audit untuk mengumpulkan bukti yang berkaitan dengan kewajaran penyajina laporan keunagan. Dalam bagian tersebut akan disajikan uraian setiap kategori asersi beserta contohnya.
- KEBERADAAN ATAU KETERJADIAN
Asersi tentang keberadaan atau kejadian (existence or occurrence) berkaitan dengan apakah aktiva atau kewajiban entitas memang benar-benar ada pada tanggal tertentu dan apakah transaksi yang dicapat benar-benar telah terjadi selama periode tersebut.
- KELENGKAPAN
Asersi mengenai kelengkapan (completeness) berkaitan dengan apakah semua transaksi dan akun yang harus disajikan dalam laporan keuangan benar-benar telah dicantumkan.
- HAK DAN KEWAJIBAN
Asersi mengenai hak dan kewajiban (right and obligation) berkaitan dengan apakah aktiva telah menjadi entitas dan hutang memang telah menjadi kewajiban entitas pada suatu tanggal tertentu.
- PENILAIAN ATAU ALOKASI
Asersi mengenai penilaian atau alokasi (valuation or allocation) berkaitan dengan apakah komponen aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban telah dicantumkan dalam laporan kuangan dengan jumlah yang semestinya.
- PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
Asersi mengenai penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure) berkaitandengan pakah komponen tertentu laporan keuangan telah digolongkan, diuraikan, dan diungkapan sebagaimana mestinya.
- MATERIALITAS
Pernyataan konsep PASB no.2 mendefinisikan materialisasi (materiality) sebagai “besarnya pengabaian atau salah saji informasi akuntansi yang dalam kaitannya dengan kondisi di sekitarnya, akan memungkinkan pertimbangan pihak yang berkepentinganyang mengandalkan informasi tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh pengabaian atau salah saji tersebut”.
Bagaiman konsep materilalitas ini dapat mempengaruhi proses audit? Pertama, auditor membuat pertimbangan awal mengenai materialitas sementara ia merencankan perikatan untuk membuat keputusan penting tintang lingkup audit. Kedua, konsep materialitas iniu juga menjadi pedoman auditor ketika mengevaluasi temuan audit. Apabila digunakan teknik penarikan sampel, auditor harus memproyeksikan salah saji yang diketahui dalam sampel pada populasi secara keseluruhan. Keputusan materialitas ini merupakan elemen kunci bagi suatu audit, karena akan menjadi pedoman auditor pada berbagai keputusan berikutnya tentang apa yang penting tau tidak penting dalam pembentukan pendapat atas laporan keuangan.
- RISIKO AUDIT
Laporan audit standar menjelaskan bahwa audit dirancang untuk memperoleh keyakinan yang memadai – bukan absolut – bahwa laporan keunagan telah bebas dari salah saji yang material. Karena audit tidak menjamin bahwa laporan keuangan telah bebas dari salah saji yang material, maka terdapat beberapa derajat risiko bahwa laporan keuangan mengandung salah saji yang tidak terdeteksi oleh auditor. SAS 47 (AU 312.02, Audit Risk and materiality in Conducting the Audit (Risiko Audit dan materialitas dalam Pelaksanaan Audit), mendefinisikan risiko audit sebagai berikut:
Risiko audit (audit risk) adalah risiko auditor tanpa sadar tidak melakukan modifikasi pendapat sebagaiman mestinya atas laporan keuangan yang mengandung salah saji material.
- KOMPONEN RISIKO AUDIT
Dalam praktik, seorang auditortidak hanya harus mempertimbangkan risiko audit untuk setiap saldo akun dan golongan transaksi saja , tetapi juga setiap asersi yang relevan dengan saldo akun dan golongan transaksi yang material.
- Risiko Bawaan
Risiko Bawaan adalah (inherent risk) adalah kerentalan suatu asersi terhadap kemungkinan salah saji yang material, dengan asumsi tidak terdapat pengendalian internal yang terkait.
- Risiko pengendalian
Risiko Pengendalian (control risk) adalah risiko terjadinya salah saji yang material dalam suatu asersiyang tidak akan dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh struktur pengendalian intern entitas.
- Risiko Deteksi
Risko deteksi (detection risk) adalah risiko yang timbul karena auditor tidak dapat mendeteksi salah sai material yang terdapat dalam satu asersi.
- BUKTI AUDIT
Bukti audit sangat mudah mempengaruhi sifat pekerjaan audit yang tercantum pada standar ketigha pekerjaan lapangan dari standar auditing yang berlaku umum (GAAS). Standar ketiga pekerjaan laporan menyatakan bahwa:
Bahan bukti (evidential matter) kompeten yang mencukupi dapat diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi, yang digunakan sebagai dasar yang layak untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
- KECUKUPAN BUKTI AUDIT
Elemen dari standar ketiga pekerjaan lapangan ini berkaitan dengan kuantitas bahan bukti. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertimbangan auditor atas kecukupan meliputi:
1. Materialitas dan risiko
Secara umum, untuk akun yang material pada laporan keuangan diperlukan bukti yang lebih banyak dibandingkan untuk akun yang tidak material. Dengan demikian, dalam mengaudit sebuah perusahaan manufaktur, maka sifat, dan luasnya bukti audit untuk medukung tujuan audit atas akun persediaan akan lebih meyakinkan dibandingkan dengan bukti yang diperlukan untuk tujuan audit atas akun beban dibayar di muka.
2. Faktor-faktor ekonomi
Seorang auditor bekerja dalam batasan ekonomi yang menentukan bahwa kecukupan bukti harus diperoleh dalam batasan waktu dan biaya yang memadai. Dengan demikian, seorang auditor seringkali menghadapi keputusan apakah penambahan waktu dan biaya akan memberikan manfaat yang sepadan berupa perolehan bukti audit yang lebih meyakinkan.
3. Ukuran dan Karakteristik Populasi
Ukuran populasi berkaitan dengan jumlah item yang terdapat dalam populasi tersebut, seperti jumlah transaksi penjualan dalam jurnal penjualan. Ukuran populasi akuntansi mendasari banyak item laporan keunagan yang digunakan dalam penarikan sampel yang diperlukan untuk pengumpulan bukti audit. Secara umum, semakin besar populasinya akan semakin besar pula jumlah bukti yang diperlukan untuk memperoleh dasar yang memadai guna menarik kesimpulan tentang hal itu.
- GAMBARAN UMUM PROSES AUDIT
Tujuan menyeluruh dari suatu audit laporan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah menyajikan secara wajar, dalam senua hal yang material sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP).Prosess diagonostik untuk membuat pertimbangan tentang akun yang mungkin mengandung salah saji yang material serta memperoleh bukti tentang penyajian yang wajar dalam laporan keuangan melibatkan sejumlah langkah. Langkah-langkah ini dijelaskan dalam gambar 1.
Bab ini berfokus pada tujuh langkah pokok yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan audit laporan keuangan:
1. Memperoleh pemahaman tentang bisnis dan industri
2. Mengindefikasi asersi laporan keuangan yang relevan
3. Membuat keputusan tentang jumlah yang material bagi para pengguna laporan keuangan
4. Membuat keputusan tentang komponen risiko audit
5. Memperoleh bukti melalui prosedur audit, termasuk prosedur untuk memahami pengendalian intern, melaksanakan pengujian pengendalian, dan melaksanakan pengujian substantif
6. Menetapkan bagaimana menggunakan bukti untuk mendukung suatu pendapat audit, komunikasi kepada klien lain, serta jasa bernilai tambah
7. Mengkomunikasikan temuan-temuan.
Berikut ini adalah ikhtisar singkat bagaimana elemen-elemen ini dapat dipadukan bersama dalam pelaksanaan suatu audit. Seorang auditor harus mengembangkan pemahaman tentang bisnis dan industri agar dapat memahami substansi ekonomi suatu transaksi entitas dan bagaimana GAAP diterapkan dalam industri tersebut, serta untuk mengembangkan harapan tentang laporan entitas. Agar dapat mengelola audit tersebut dengan baik, maka auditor harus membagi audit menjadi audit-audit atas saldo akun pertama dan golongan transaksi, dan kemudian audit atas asersi laporan keuangan untuk setiap saldo akun dan golongan transaksi.
- ASERSI MANAJEMEN
Tujuan menyeluruh dari audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah menyatakan secara wajar, dalamj semua hal yang material, sesuai dengan GAAP.Untuk mencapai tujuan tersebut, hal yang lazim dilakukan dalam audit adalah mengidentifikasi sejumlah tujuan audit yang spesifik bagi setiap akunyang dilaporankan dalam laporan keuangan. Tujan yang spesifik ini diambil dari asersi yang dibuat oleh manajemen dan dimuat dalam laporan keuangan.
Laporan keuangan terdiri dari asersi manajemen yang eksplisit dan implisit. Asersi ini merupakan hal yang penting karena menjadi pedoman auditor dalam pengumpulan bukti. Sebagai contoh, perhatikan komponen neraca berikut ini:
Aktiva Lancar:
Piutang Usaha, bersih $40252900
Untuk melaporkan pos ini dalam neraca, manajemen membuat dua asersi eksplisit, yaitu (1) piutang usaha tersebut memang ada, dan (2) Jumlah piutang usaha yang benar setelah dikurangi penyisihan piutang tak tertagih adalah $40252900. Manajemen juga membuat tiga asersi implisit sebagai berikut: (1) semua piutang usaha yang harus dilaporkan telah dilaporkan semuanya, (2) semua piutang usaha yang dilaporkantersebut adalah benar milik entitas, dan (3) semua pengungkapan yang sesuai berkaitan dengan piutang usaha telah dicantumkan dalam catatan atas laporan keuangan. Apabila ada salah satu asersi tersebut yang salah saji, berarti laporan keuangan telah salah saji secara material.
Asersi serupa merndasari semua komponen aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban dalam laporan keuangan. Sesuai dengan itu, Auditing Standard Board (ASB) dalam SAS 31, Evidential Matter (AU 326.03), telah mengakui lima kategori asersi laporan kuangan sebagai berikut:
1. Keberandaan atau keterjadian (existence or occurrence)
2. Kelengkapan (completeness)
3. Hak dan kewajiban (rights and obligations)
4. Penilaian dan alokasi (valuation or allocation)
5. Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure)
Lima kategori asersi ini merupakan hal yang penting karena dapat emmbantu auditor memahami jenis salah saji potensial yang dapat terjadi dalam laporan keuangan, dan dapat membantu auditor mengembangkan perencanaan audit untuk mengumpulkan bukti yang berkaitan dengan kewajaran penyajina laporan keunagan. Dalam bagian tersebut akan disajikan uraian setiap kategori asersi beserta contohnya.
- KEBERADAAN ATAU KETERJADIAN
Asersi tentang keberadaan atau kejadian (existence or occurrence) berkaitan dengan apakah aktiva atau kewajiban entitas memang benar-benar ada pada tanggal tertentu dan apakah transaksi yang dicapat benar-benar telah terjadi selama periode tersebut.
- KELENGKAPAN
Asersi mengenai kelengkapan (completeness) berkaitan dengan apakah semua transaksi dan akun yang harus disajikan dalam laporan keuangan benar-benar telah dicantumkan.
- HAK DAN KEWAJIBAN
Asersi mengenai hak dan kewajiban (right and obligation) berkaitan dengan apakah aktiva telah menjadi entitas dan hutang memang telah menjadi kewajiban entitas pada suatu tanggal tertentu.
- PENILAIAN ATAU ALOKASI
Asersi mengenai penilaian atau alokasi (valuation or allocation) berkaitan dengan apakah komponen aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban telah dicantumkan dalam laporan kuangan dengan jumlah yang semestinya.
- PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
Asersi mengenai penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure) berkaitandengan pakah komponen tertentu laporan keuangan telah digolongkan, diuraikan, dan diungkapan sebagaimana mestinya.
- MATERIALITAS
Pernyataan konsep PASB no.2 mendefinisikan materialisasi (materiality) sebagai “besarnya pengabaian atau salah saji informasi akuntansi yang dalam kaitannya dengan kondisi di sekitarnya, akan memungkinkan pertimbangan pihak yang berkepentinganyang mengandalkan informasi tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh pengabaian atau salah saji tersebut”.
Bagaiman konsep materilalitas ini dapat mempengaruhi proses audit? Pertama, auditor membuat pertimbangan awal mengenai materialitas sementara ia merencankan perikatan untuk membuat keputusan penting tintang lingkup audit. Kedua, konsep materialitas iniu juga menjadi pedoman auditor ketika mengevaluasi temuan audit. Apabila digunakan teknik penarikan sampel, auditor harus memproyeksikan salah saji yang diketahui dalam sampel pada populasi secara keseluruhan. Keputusan materialitas ini merupakan elemen kunci bagi suatu audit, karena akan menjadi pedoman auditor pada berbagai keputusan berikutnya tentang apa yang penting tau tidak penting dalam pembentukan pendapat atas laporan keuangan.
- RISIKO AUDIT
Laporan audit standar menjelaskan bahwa audit dirancang untuk memperoleh keyakinan yang memadai – bukan absolut – bahwa laporan keunagan telah bebas dari salah saji yang material. Karena audit tidak menjamin bahwa laporan keuangan telah bebas dari salah saji yang material, maka terdapat beberapa derajat risiko bahwa laporan keuangan mengandung salah saji yang tidak terdeteksi oleh auditor. SAS 47 (AU 312.02, Audit Risk and materiality in Conducting the Audit (Risiko Audit dan materialitas dalam Pelaksanaan Audit), mendefinisikan risiko audit sebagai berikut:
Risiko audit (audit risk) adalah risiko auditor tanpa sadar tidak melakukan modifikasi pendapat sebagaiman mestinya atas laporan keuangan yang mengandung salah saji material.
- KOMPONEN RISIKO AUDIT
Dalam praktik, seorang auditortidak hanya harus mempertimbangkan risiko audit untuk setiap saldo akun dan golongan transaksi saja , tetapi juga setiap asersi yang relevan dengan saldo akun dan golongan transaksi yang material.
- Risiko Bawaan
Risiko Bawaan adalah (inherent risk) adalah kerentalan suatu asersi terhadap kemungkinan salah saji yang material, dengan asumsi tidak terdapat pengendalian internal yang terkait.
- Risiko pengendalian
Risiko Pengendalian (control risk) adalah risiko terjadinya salah saji yang material dalam suatu asersiyang tidak akan dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh struktur pengendalian intern entitas.
- Risiko Deteksi
Risko deteksi (detection risk) adalah risiko yang timbul karena auditor tidak dapat mendeteksi salah sai material yang terdapat dalam satu asersi.
- BUKTI AUDIT
Bukti audit sangat mudah mempengaruhi sifat pekerjaan audit yang tercantum pada standar ketigha pekerjaan lapangan dari standar auditing yang berlaku umum (GAAS). Standar ketiga pekerjaan laporan menyatakan bahwa:
Bahan bukti (evidential matter) kompeten yang mencukupi dapat diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi, yang digunakan sebagai dasar yang layak untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
- KECUKUPAN BUKTI AUDIT
Elemen dari standar ketiga pekerjaan lapangan ini berkaitan dengan kuantitas bahan bukti. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertimbangan auditor atas kecukupan meliputi:
1. Materialitas dan risiko
Secara umum, untuk akun yang material pada laporan keuangan diperlukan bukti yang lebih banyak dibandingkan untuk akun yang tidak material. Dengan demikian, dalam mengaudit sebuah perusahaan manufaktur, maka sifat, dan luasnya bukti audit untuk medukung tujuan audit atas akun persediaan akan lebih meyakinkan dibandingkan dengan bukti yang diperlukan untuk tujuan audit atas akun beban dibayar di muka.
2. Faktor-faktor ekonomi
Seorang auditor bekerja dalam batasan ekonomi yang menentukan bahwa kecukupan bukti harus diperoleh dalam batasan waktu dan biaya yang memadai. Dengan demikian, seorang auditor seringkali menghadapi keputusan apakah penambahan waktu dan biaya akan memberikan manfaat yang sepadan berupa perolehan bukti audit yang lebih meyakinkan.
3. Ukuran dan Karakteristik Populasi
Ukuran populasi berkaitan dengan jumlah item yang terdapat dalam populasi tersebut, seperti jumlah transaksi penjualan dalam jurnal penjualan. Ukuran populasi akuntansi mendasari banyak item laporan keunagan yang digunakan dalam penarikan sampel yang diperlukan untuk pengumpulan bukti audit. Secara umum, semakin besar populasinya akan semakin besar pula jumlah bukti yang diperlukan untuk memperoleh dasar yang memadai guna menarik kesimpulan tentang hal itu.



Gambaran Umum Proses Audit
• GAMBARAN UMUM PROSES AUDIT
Tujuan menyeluruh dari suatu audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP). Terdapat 7 langkah pokok yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan audit laporan keuangan :
Memperoleh pemahaman tentang bisnis dan industry
Mengidentifikasi asersi laporan keuangan yang relevan
Membuat keputusan tentang jumlah yang material bagi para pengguna laporan keuangan
Membuat keputusan tentang komponen risiko audit
Memperoleh bukti melalui prosedur audit, termasuk prosedur untuk memahami pengendalian intern, melaksanakan pengujian pengendalian, dan melaksanakan pengujian substantif
Menetapkan bagaimana menggunakan bukti untuk mendukung suatu pendapat audit, komunikasi kepada klien lain, serta jasa bernilai tambah
Mengkomunikasikan temuan-temuan
Komunikasi kepada para pengguna laporan keuangan melalui pendapat audit, komunikasi lain yang diperlukan kepada komite audit, komunikasi temuan yang berkaitan dengan jasa bernila tambah lain.
PENGETAHUAN TENTANG BISNIS DAN INDUSTRI
Auditor harus memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang bisnis dan industri klien agar dapat memahami peristiwa-peristiwa, transaksi-transaksi, dan praktik-praktik yang dapat berpengaruh secara signifikan pada laporan keuangan. Beberapa contoh bagaimana pemahaman atas bisnis dan industry dapat memastikan mutu yang tinggi atas jasa yang diberikan kepada klien :
MENGEMBANGKAN HARAPAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
Pengembangan ini melibatkan pengguna pengetahuan tentang kinerja bisnis untuk mengembangkan harapan atas jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Pertama, kesadaran terhadap kecenderungan dan faktor-faktor persaingan membantu auditor dalam mengembangkan harapan atas laporan keuangan dan untuk mengevaluasi risiko salah saji yang material dalam laporan keuangan. Pengetahuan atas kecenderungan bisnis merupakan hal yang penting untuk menilai kelayakan kegiatan operasi, keuangan, dan investasi organisasi.
Selain itu, lingkungan bisnis telah mendorong pengambilan resiko sampai derajat tertentu. Untuk itu auditor harus terampil mengenali resiko yang dapat menggagalkan rencana strategis perusahaan. Agar dapat melaporkan secara tepat kondisi keuangan perusahaan-perusahaan yang sedang bertumbuh, para auditor tidak hanya dituntut memiliki pemahaman yang mendalam atas prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP) dan standar auditing yang berlaku umum (GAAS) tetapi juga memiliki tingkat ketajaman bisnis yang tinggi.
PENGARUH INDUSTRI TERHADAP SISTEM INFORMASI
Pemahaman atas bisnis dan industry akan membantu seorang auditor memahami masalah-masalah system informasi (information system issues) yang penting bagi seorang klien. Auditor harus senantiasa melakukan pendekatan audit dengan pemahaman praktik terbaik dalam industry terkait, serta memahami implikasi pekerjaan audit, ketika system informasi dan pengendalian intern perusahaan berbeda dari praktik industry pada umumnya.
MENGEVALUASI KELAYAKAN ESTIMASI AKUNTANSI
Pengetahuan tentang bisnis dan industry akan membantu auditor dalam mengevaluasi kelayakan estimasi akuntansi (reasonableness of accounting estimates) serta representasi manajemen. Pemahaman auditor tentang praktik bisnis dan tekanan persaingan dalam suatu industry akan menjadi dasar untuk menilai kelayakan penyajian klien dan membuat pertimbangan professional yang bermutu tinggi atas laporan keuangan. SAS 61 (AU 380), Communication with Audit Committees (Komunikasi dengan Komite Audit), menghendaki auditor untuk mendiskusikan pertimbangan-pertimbangan dan estimasi akuntansi yang signifikan dengan komite audit.
ASERSI MANAJEMEN
Tujuan menyeluruh dari audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah menyatakan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan GAAP. Laporan keuangan terdiri dari asersi manajemen yang eksplisit dan implicit. Asersi merupakan pedoman auditor dalam pengumpulan bukti. Terdapat 5 kategori asersi laporan keuangan :
Keberadaan atau keterjadian (existence or occurrence)
Asersi ini berkaitan dengan apakah aktiva atau kewajiban entitas memang benar-benar ada pada tanggal tertentu dan apakah transaksi yang dicatat benar-benar telah terjadi selama peiode tersebut. Perhatian auditor tentang kategori asersi ini terutama berkaitan dengan lebih saji (overstatement) komponen laporan keuangan sebagai akibat dicantumkannya item-item yang sebenarnya tidak ada atau pengaruh dari transaksi yang tidak pernah terjadi.
Kelengkapan (completeness)
Asersi ini berkaitan dengan apakah semua transaksi dan akun yang harus disajikan dalam laporan keuangan benar-benar telah dicantumkan. Secara khusus asersi kelengkapan ini penting dalam menentukan apakah suatu entitas dapat diaudit (auditable) atau tidak.
Hak dan Kewajiban (rights and obligations)
Asersi mengenai hak dan kewajiban (rights and obligation) berkaitan dengan apakah aktiva telah menjadi hak entitas dan hutang memang telah menjadi kewajiban entitas pada suatu tanggal tertentu. Asersi ini pada umumya berkaitan dengan hak kepemilikan dan kewajiban hukum.
Penilaian atau alokasi (valuation or allocation)
Asersi mengenai penilaian atau alokasi (valuation orallocation) berkaitan dengan apakah komponen active, kewajiban, pendapatan, dan beban telah dicantumkan dalam laporan keuangan dengan jumlah yang semestinya yang berarti sesuai dengan :
GAAP
Menentukan apakah jumlah yang ditetapkan telah sesuai dengan GAAP menunjukkan pengukuran yang benar atas aktiva, kewajiban, pendapatan dan beban, yang mencakup hal-hal:
• Penerapan prinsip penilaian yang benar seperti harga perolehan, nilai bersih yang dapat direalisasikan, harga pasar, dan nilai sekarang
• Penerapan prinsip penandingan yang benar
• Kelayakan estimasi akuntansi manajemen
• Konsistensi dalam penerapan prinsip akuntansi
Kecermatan Klerikal dan Perhitungan
Kecermatan ini berkaitan dengan masalah-masalah kecermatan dalam pengisian data rinci pada dokumen sumber, dalam catatan ayat jurnal, dalam posting ke buku besar, serta dalam menjaga kesesuaian antara akun pengendali (control account) dan buku besar pembantu (subsidiary ledgers)
Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure)
Asersi mengenai penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure) berkaitan dengan apakah komponen tertentu laporan keuangan telah digolongkan, diuraikan, dan diungkapkan sebagaimana mestinya.

Read More - GAMBARAN UMUM PROSES AUDIT (resum audit 1/ bab 6)
Read More - GAMBARAN UMUM PROSES AUDIT (resum audit 1/ bab 6)