Kamis, 05 Mei 2011

Review "Perahu Kertas"





Judul: Perahu Kertas
Penulis: Dewi "Dee" Lestari
Tebal Buku: 444 hlm





Woow dewi Lestari,  dari dulu aku suka sekali ma karya-karya dewi lestari.  Sejak membaca “petir-supernova 3” yang menjadi awal pertemuanku dengan supernova. Dan sejak itu pula aku benar-benar  terkena virus nya. Berlanjut kepada “Filosofi kopi” yang membuat aku terus ketagihan akan karya-karya dee. Dan novel ini pun berhasil menyihir aku, dalam sehari langsung selesai terbaca karena semua teralikan oleh cepatnya arus cerita, sederas arus yang membawa perahu kertas….

Sampul belakang dari novel ini bertuliskan…

Namanya Kugy. Mungil, pengkhayal dan berantakan. Dari benaknya, mengalir untaian dongeng indah. Keenan belum pernah bertemu manusia seaneh itu.
...
Namanya Keenan. Cerdas, artistik, dan penuh kejutan. Dari tangannya, mewujud lukisan-lukisan magis. Kugy belum pernah bertemu manusia seajaib itu.
...
Dan kini mereka berhadapan di antara hamparan misteri dan rintangan.
Akankah dongeng dan lukisan itu bersatu?
Akankah hati dan impian mereka bertemu?
***

Di awal ketika aku membacanya aku merasa novel ini seperti teenlit remaja dan membuatku sedikit kecewa. Tetapi ternyata aku salah, Terlalu awal aku menyimpulkanya. Novel ini terasa nyata sama halnya dengan supernova. Ingin rasanya aku bertemu kugy. Aku merasa iri kepada kugy.

Kugy adalah seorang gadis mungil yang ceria, tidak peduli pada penampilannya, selalu berantakan, dan adalah seorang pengkhayal. Dia dibesarkan dalam keluarga yang hangat. Di sini Dee pun mampu menuliskan sesuatu yang kecil tetpi memiliki arti yang besar seperi smua saudara kugy diberi nama dengan awalan huruf “K”. Ia mempunyai sebuah impian untuk menjadi penulis dongeng, cita-cita yang selalu ada namun tak pernah benar-benar terwujud.

Pertemuanya dengan  keenan berawal dari sahabat kugy yang bernama Eko. Keenan adalah sepupu Eko. Antara kugy dan keenan, Keduanya memiliki persamaan yaitu sama-sama seorang pemimpi. Mereka sama-sama harus berjuang mewujudkan mimpinya.

Ditengah perjalanan dalam mewujudkan mimpi mereka masing-masing. Mereka pun mengalami perasaan cinta. Yang menurutku mereka sama-sama takut terluka dan tak ada yang berani mengungkapkan perasaan yang ada dalam hati mereka. Mulai dari ketika mereka kuliah, kugy yang menjalin cinta dengan ojos dan keenan yang berusaha dicomblangi oleh noni dan eko dengan wanda.

Keenan harus berhadapan dengan ayahnya yang menginginkan keenan meneruskan bisnis keluarganya. Sementara kugy dihapakan oleh realita kehidupan. Bahwa kita hidup di dunia nyata semua serba tersa dihitung oleh materi. Oia hampir saja lupa.  Kugy juga memilih mengajar bersama Sakolah Alit. Di sekolah Alit ini kugy tidak hanya mengajar tetapi juga belajar dari  anak-anak (ups, jadi kangen ma murid-muridku di bimbel).

Dalam proses mewujudkan mimpi ada perbeedaan antara kugy dan keenan. Menurutku Keenan lebih berani dalam mewujudkan mimpinya. Ia memilih pergi dari rumah dan menuju ke Bali untuk terus melukis. Sementara Kugy yang lulus lebih awal langsung memutuskan untuk mencari pekerjaan dan ia mendapatkan pekerjaan yang baik di sebuah perusahaan advertising. Kugy pun nyaris berhenti menulis.  Dia Tak peduli lagi dengan ambisinya menjadi penulis dongeng. Daya khayalnya tergantikan oleh rangkaian pikiran logis yang bekerja mekanis bagai robot untuk belajar, belajar, dan hanya belajar.

Disinilah aku merasa novel ini benar-benar nyata. Seperti kehidupanku yang selalu berusaha jalan di jalan semestinya. Sama-sama memiliki sifat naïf, penuh impian tetapi seiring dengan waktu dan bertambahnya usia, tahu akan kenyataan
segalanya menjadi berubah.  Belajar, kuliah, kerja kerja dan kerja…hal itulah yang aku lakukan. Aku merasa tak seberani kugy.  Aku selalu berfikir kenapa kita susah sekali mewujudkan mimpi karena kita hidup di dunia nyata bukan di dunia dongeng yang penuh dari khayalan dan impian. Tetapi aku harus terus berusaha mewujudkan mimpi karena tanpa mimpi aku hanyalah manusia tanah biasa….

Kembali lagi kedalam novel. Sementara Di bali keenan bertemu dengan Luhde,  seorang perempuan Bali yang polos dan lugu dengan sifat khas orang timur.   Sementara di kantor Kugy dipertemukan dengan Remi. Remi adalah atasan kugy yang memiliki sifat bijaksana dan sangat mencintai Kugy.  Kugy dan Keenan masing-masing telah menemukan cinta di hadapan mereka, akan tetapi cinta yang mereka pernah rasakan dulu seolah tidak dapat dihapus dengan mudah. (hadeh lagi-lagi ada orang lain, akupun juga selalu bertanya sebenarnya siapakah jodohku..hehehe)

Novel inipun mampu membuatku selalu bertanya-tanya. Kalian juga ! pasti akan penasaran akan kemanakah perahu kertas yang terbawa aliran sungai akan berhenti…kali ini pun aku tidak akan memberi tahu kalian akankah kugy dan keenan bersatu ? Walapun menurut beberapa orang  yang kurang suka akan perahu kertas, dimana dee mengapa lebih memilih menulis novel remaja. Tetpi aku justru berterimakasih kepada Dee  telah mengingatkanku kepada mimpi-mimpiku  “punyak taman kanak-kanak, mendaki salah satu seven sammit dan mendapatkan puncak bersaljunya”, yang sempat terkubur di dalam tumpukan lembar realita kehidupan

Hayukkkk baca yukksss !!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar