Sabtu, 02 Juli 2011

review Madre

Penulis : Dee/ Dewi Lestari
Penerbit : Penerbit Bentang
Cetakan Pertama : Juni 2011
Tebal : 162 halaman

      




Madre yang berisi kumpulan cerita yang  sudah dinanti oleh para penggemar Dee terutama aku sendiri. Madre bagaikan bacaan penganjal, sebelum menunggu kelahiran supernova #4.  Saat ini pun aku hanya cukup meminjamnya saja dari sang kawan dan suatu saat baru akan termiliki oleh ku. Seperti filosofi kopi,  “madre” terdiri dari beberapa kumpulan cerita pendek dan sajak yang diawali dengan cerita pendek berjudul “Madre”, dalam bahasa spanyol Madre adalah ibu. Seperti yang sudah-sudah, Dee selalu dapat membuat para pembaca terbawa kedalam cerita, seolah-olah ini adalah cerita nyata. Saya jadi teringgat pertanyaan Lian, sahabat  saya “memangnya café “filosofi kopi” dimana ya ? ayuk kita kesana!!”, kontan saja saya tertawa.  Dan kali Dee melengkapi sebuah kafe “filosofi kopi” dengan “Tan Bakery”, dan dari cerita Madre saya bisa mengetahui seperti apa pembuatan roti itu yang sebelumnya tidak terfikirkan olehku. Dee sanggup memberikan cerita humor melalu percakapan tokoh utama dengan Pak Hadi seorang “Artisan” legenda, saat membacanya saya benar-benar dibuat senyam-semyum dan tertawa sendiri (sory Raditya Dika lewat). Dee mampu menghidupan tokoh Tansen yang cuek dan Pak Hadi dengan hangatnya, sindiran yang menyemangati, pesan yang menghangatkan selalu hadir. 

Tawaku menyembur. Akhirnya kutemukan kelucuan dari semua ini. Telah kusebrangi lautan, menemui orang-orang asing yang tiba-tiba mengobrak-abrik garis hidupku, menguak sejarah orang-orang mati yang tak mungkin bangkit lagi, dan satu-satunya yang tersisa dari rangkaian drama itu adalah satu toples adonan roti?”  (12) 

“Saya cari di Google, kata ‘Madre’ itu ternyata berasal dari bahasa Spanyol, artinya ‘Ibu’. Madre, Sang Adonan Biang, lahir sebelum ibu kandung saya. Dan dia bahkan sanggup hidup lebih panjang dari penciptanya. “ (18)

Penasaran dengan seperti apakah “madre” yang sanggup hidup ratusan tahun dan dapat memberikan kehidupan bagi para “artisan” legenda di Tan Bakery…ayuk baca di jamin puas !! selain cerpen diatas ada beberapa puisi yang indah lho, dua diantaranya yang saya suka adalah “ Wajah Telaga” dan “Percakapan di sebuah Jembatan”, dan pilihlah puisi favorite kamu…


Wajah telaga  tidak pernah berdusta
Ia bergetar saat udara halus menyapu mukanya
Ia beriak saat anggin lincah mengajaknya menari
….
Wajah telaga tidak pernah menyangkal
izinkan wajahku menjadi wajah telaga
(105)

Berdua kami melintasi jembatan sejarah
Tahun-tahun yang berhiaskan putih harapan dan merah darah
Dan aku bertanya : apakah yang sanggup mengubah gumpal luka menjadi intan
Yang membekukan air mata menjadi kristal garam?
Sahabatku menjawab : Waktu
Hanya waktu yang mampu”
(123)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar