Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 06 Oktober 2010

KEBIJAKAN DEVIDEN


TUGAS RESUM PENGETAHUAN PASAR MODAL

1.      Pengertian Kebijakan Deviden
Kebijakan Deviden  Diartikan secara umum sebagai pembayaran laba perusahaan kepada pemegang sahamnya. Kebijakan Deviden merupakan bagian dari laba yang diberikan kepada para pemegang saham biasa dalam bentuk kas/tunai.Menurut Suad Husnan, kebijakan deviden dapat diartikan :
·         Bagian lain dari laba yang diperoleh (jika tidak diberikan semuanya dalam bentuk deviden) akan ditahan untuk diinvestasikan kembali (retained earning).
·         Apakah laba sebaiknya dibagi dengan konsekuensi harus mengelurkan saham baru ataukah tidak perlu dibagi sehingga tidak mengeluarkan saham baru.
Kebijakan Deviden mempunyai arti penting bagi perusahaan karena alasan-alasan berikut:
  1. Kebijakan itu berpengaruh pada sikap para investor. Pemotongan deviden bisa dipandang negatif oleh para investor, karena pemotongan seperti itu sering dikaitkan dengan kesulitan keuangan;
  2. Kebijakan itu berdampak pada program pendanaan dan anggaran modal perusahaan;
  3. Kebijakan itu mempengaruhi arus kas perusahaan. Perusahaan dengan likuiditas buruk dapat dipaksa untuk membatasi pembayaran devidennya;
  4. Kebijakan itu menurunkan ekuitas pemegang saham karena dividen dibayar dari laba yang ditahan. Hal ini mengakibatkan rasio hutang terhadap ekuitas menjadi lebih tinggi.
Dalam penentuan kebijakan deviden, ada beberapa factor yang perlu dipertimbangkan, antara lain:
  1. Faktor likuiditas. Jika likuiditas perusahaan rendah biasanya deviden yang diberikan dalam bentuk deviden per share juga rendah, kecuali bagi perusahaan yang menggunakan kebijakan deviden yang stabil.
  2. Biaya pengeluaran saham baru. Emisi saham baru akan mempunyai biaya modal yang lebih besar, dari biaya modal dari laba yang ditahan.
  3. Pengendalian. Apabila untuk mendapatkan dana baru perusahaan harus mengeluarkan saham baru, maka disamping biaya modal perusahaan meningkat, maka proporsi kepemilikan pemilik saham lama juga akan berkurang.
  4. Stabilitas keuntungan dan kebangkrutan. Semakin stabil keuntungan yang diperoleh perusahaan, semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar deviden.
  5. Biaya transaksi dan kebutuhan pemodal. Secara teoritis kenaikan harga saham akan sama dengan jumlah deviden yang dibagikan.
2. Jenis-jenis kebijaksnaan deviden
a. Deviden  per saham yang stabil
Dalam kebijakan ini, pembayaran deviden dari waktu ke waktu mempunyai jumlah yang sama, walaupun perusahaan mengalami kerugian , jumlah deviden yang dibayarkan. Investor akan aman jumlah yang tetap diterimanya sesuai dengan motifasi mereka.

b.      DPO (deviden pay-out) yang stabil
            Dalam kebijakan deviden ini, jumlah deviden dibakukan sekian persen dari pendapatan perusahaan. Sehingga deviden yang dibayarkan berfluktuasi tergantung besarnya keuntungan.

c.       Kombinasi.
Dalam kebijakan deviden ini, perusahaan secara regular (misalnya perkuartal) membayar dalam jumlah yang kecil, namun diakhir tahun perusahaan menambah ekstra deviden apabila perusahaan mendapatkan laba cukup besar atau mengalami situasi yang baik.

d.      Kebijakan deviden residual.
Dalam kebijakan ini, jumlah laba ditahan tergantung pada tersedianya peluang investasi pada suatu tahun tertentu. Sehingga deviden yang dibayarkan oleh perusahaan apabila kesempatan investasi perusahaan atau dana yang dibutuhkan telah terpenuhi.

3. Prosedur dan Rasio Pembayaran Deviden
a. Prosedur Pembayaran deviden cukup penting untuk diketahui. Prosedur pembayaran    berkaitan dengan sejumlah tanggal yang berkaitan dengan pembayaran deviden. Berikut ini adalah garis besar urutan pembayaran deviden:
·         Tanggal deklarasi, yaitu tanggal dimana dewan direksi mengumumkan deviden.
·         Tanggal catatan pemegang saham, yaitu tanggal dimana perusahaan menutup buku pencatatan pemindahtanganan saham dan membuat daftar pemegang saham per tanggal tersebut
·         Tanggal pemisahan deviden, yaitu tanggal pada saat deviden dipisahkan dari saham.
·         Tanggal pembayaran, yaitu tanggal dimana perusahaan akan melaksanakan pengiriman cek kepada pemegang saham yang tercatat sebagai pemegang saham.

b.  Rasio pembayaran deviden adalah presentase laba yang dibayarkan kepada para pemegang saham dalam bentuk kas. Rasio pembayaran deviden ini merupakan aspek utama dari kebijakan deviden perusahaan, yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan bagi para pemegang sahamnya.

4. Teori Kebijakan Deviden
a.  Kebijakan deviden tanpa pajak
     Kebijakan deviden tanpa pajak hanya bersifat teori dan tidak dapat diaplikasikan dalam      dunia nyata saat ini, sedangkan keadaan realistis, kebijakan deviden dengan memasukkan unsur pajak, yaitu pajak pribadi dan perusahaan. Asumsi yang digunakan oleh teori kebijakan deviden tanpa pajak adalah sebagai berikut:
·         Pasar modal yang sempurna dan semua investor adalah rasional, informasi tersedia semua tanpa biaya, termasuk biaya transaksi, termasuk biaya transaksi, dan investor besar tidak cukup untuk mempengaruhi harga pasar sekuritas;
·         Tidak ada biaya pengembangan pada saat pengeluaran sekuritas;
·         Tidak ada pajak
·         Penentuan kebijakan investasi, perusahaan tidak berubah;
·         Investor saat ini merasa yakin terhadap investasi dan keuntungan perusahaan dimasa yang akan datang.

b.  Kebijakan deviden yang terkena pajak.
      Menurut pandangan ini, bahwa deviden itu merupakan investor. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan perlakuan pajak terhadap pendapatan deviden. Asumsi yang digunakan dalam teori ini adalah:
  • Kebijakan investasi suatu perusahaan tidak terpengaruh oleh kebijakan deviden;
  • Tidak ada biaya transaksi yang dikenakan untuk penambahan modal eksternal;
  • Ada tiga macam tarif pajak, yaitu pajak perusahaan proporsional, pajak penghasilan pribadi dari obligasi, deviden, dan upah, dan pajak atas keuntungan modal;
  • Perusahaan dan para penanam modal benar-benar membayar pajak tersebut.

5. Pembelian kembali saham
Pembelian kembali saham merupakan satu bentuk kebijakan deviden, dengan tujuan untuk mengurangi saham yang beredar. Jika jumlah saham yang beredar berkurang, maka nilai per lembar sahamnya akan meningkat. Ada beberapa alasan mengapa perusahaan membeli kembali saham biasanya, yaitu:
  1. Sebagai cara untuk menciptakan peluang investasi internal;
  2. Untuk memodifikasi struktur modalnya;
  3. Untuk merangsang pendapatan per lembar sahamnya
  4. Pembatasan kelompok pesero minoritas;
  5. pembatasan dampak negative merger dan akuisisi terhadap pendapatan per lembar saham;
  6. Pengurangan biaya perusahaan berupa pembayaran atau pelayanan kepada para persero kecil-kecilan.

Dalam mengadakan pembelian kembali saham perusahaan, ada 3 (tiga) metode yang dapat digunakan, yaitu:
  1. Penawaran tender harga-tetap. Perusahaan membuat tawaran formal kepada para pemegang saham untuk membeli saham yang cukup dengan harga tertentu.
  2. Penawaran tender lelang-pesero utama. Penawaran ini terutama ditujukan bagi pemegang saham mayoritas.
  3. Pembelian lewat pasar terbuka. Perusahaan membeli lewat pialang di bursa efek seperti layaknya investor individual.

6. Deviden saham (stock dividend) dan Pemecahan saham (stock split)
  1. Deviden saham (stock dividend)
Deviden saham sebagai ganti dari deviden tunai , yaitu mengelurkan  lembar saham  tambahan bagi pemegang sahamnya dan menunjukkan penyusunan kembali modal perusahaan sedangkan proporsi Dengan pemecahan. Investor dalam hal ini akan memiliki lebih banyak saham tetapi laba persaham lebih rendah dan  kepemilikan pemegang saham tetap tidak berubah.
  1. Pemecahan saham (stock split)
Saham, jumlah saham meningkat sesuai dengan penurunan nilai nominal saham. Tujuannya adalah untuk menjaga agar harga saham tidak menjadi terlalu mahal, sehingga tetap banyak orang yang mau memperjualbelikannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar